Jumat, 29 Agustus 2014

Interlude – Windry Ramadhina

Tema Baca dan Posting Bareng kali ini adalah buku Indonesia terbitan 2014. Awalnya saya berniat membeli buku lain untuk tema ini, tapi malah membeli buku lain yang tidak sesuai tema. Buku ini sebetulnya sudah saya review dan post pada 6 Agustus, jadi tanggal publikasi saya ganti sesuai tanggal posbar.




- Wrong Judgement -

Judul buku: Interlude
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Jumlah halaman: 372
Cetakan: Ke-1, 2014
ISBN: 9797807223


“Di dunia ini, beberapa orang hidup tenang, beberapa orang sebaliknya – mengalami kejadian buruk. Kedengarannya tidak adil, memang. Tapi, Hanna mereka yang mengalami kejadian buruk dan bertahan dari semua itu akan menjadi lebih kuat dari yang lain. Mereka–“ Lelaki itu berhenti sejenak untuk mencari kata yang tepat. “–Spesial.” – Ayah Hanna to Hanna 


Bagi Kai, semua gadis sama: tolol. Mereka selalu berpura-pura malu, tetapi sedikit pesona Kai mampu meluluhkan mereka. Kai akan bersenang-senang dengan mereka sebelum meninggalkan mereka. Kemudian, dia bertemu Hanna.

Gitta sudah memperingatkannya untuk tidak menyentuh Hanna. Bukan Kai namanya kalau mengindahkan peringatan semacam itu. Kai mengira Hanna termasuk gadis-gadis tolol itu, yang selalu berpura-pura. 

Hanna berbeda. Dia tidak berpura-pura. Kenangannya membuat Hanna sulit memercayai lelaki. Kekasihnya memerkosanya. Hanna menjadi seorang yang tertutup.

Kai terlanjur mengira Hanna berpura-pura. Bukan hanya menyentuh gadis itu, Kai bahkan menciumnya. Reaksi berlebihan Hanna membuat Kai geram. Dia meninggalkan Hanna dengan kesal.
Gitta yang menyadari telah terjadi sesuatu pada Hanna, mendatangi Kai. Akhirnya, dia membeberkan masa lalu Hanna. Rasa bersalah pun langsung menyelimuti Kai.

Kai, walaupun suka bermain-main, dia tidak pernah memaksa. Dia hanya bermain-main dengan gadis-gadis yang menginginkannya–yang berhasil ditaklukan Kai dengan pesonanya. Tindakannya terhadap Hanna bukan sesuatu yang biasa baginya. Dia menyesal, penyesalan yang kemudian berubah menjadi ketertarikan.

Hanna, dia menyukai laut. Dia bertemu pemuda yang meminjam nama laut: Kai. Pemuda yang mengembalikan kenangan buruknya. Pemuda yang petikan gitarnya memesona.
Pemuda yang berjanji menjadi lautnya. Pemuda yang belum bisa dia percaya.


“Kalau begitu, biarkan aku jadi lautmu.” Tangan Kai terulur untuk Hanna. “Aku akan meluruhkan semua cela itu.” 

* * *
Don’t judge the book by its cover.

Semula, saya tidak berniat membaca buku ini. Sampulnya terlalu dewasa. Saya pikir, kalau buku dengan sampul unyu saja bisa “dewasa”, apalagi buku yang memang sampulnya dewasa. Untungnya, masa lalu Hanna tidak diceritakan secara detail. Banyak kan, buku yang menceritakan flash back secara detail. Dibandingkan new adult lain, ternyata buku ini justru yang paling sopan. ^^v

Saya memutuskan membaca buku ini setelah membaca review yang dibuat Stefanie Sugia di Bookie-Looker. Saya langsung melotot melihat rating 5/5. Saya juga tertarik dengan kalimat ini:


Pada akhirnya, aku sangat puas dengan bagaimana para karakternya berubah menuju ke arah yang lebih baik; untuk diri mereka sendiri dan juga untuk satu sama lain.


Saya belum pernah membaca karya Windry Ramadhina. Yep, saya belum membaca London. Saya menunggu teman yang katanya mau membeli novel itu, tapi sampai sekarang belum membeli juga. Hehe. Maka, kalimat itu membuat saya berpikir mengapa tidak mencoba dari karya terfavorit?

Awal membaca, saya merasa agak aneh. Percakapan menggunakan bahasa baku. Saya cek lagi, memang latar novel ini di Jakarta. Rasanya saya tidak biasa mendengar orang Jakarta berbicara seperti itu, terlebih para tokoh masih muda. 

Saya sempat bertanya pada penulis mengenai hal itu. Penulis mengatakan bahwa itu gayanya. That’s it. Tidak ada penjelasan lain, misalnya agar memberikan suasana tertentu. Gaya saya sebagai pembaca aliran pop, bukan jazz, agak sulit menerima hal itu. Bagaimanapun, read must go on.

Lama-kelamaan, saya mengerti mengapa gaya yang digunakan seperti itu. Dengan gaya pop, Interlude tidak akan memberikan kesan berbeda dari novel-novel lain, selain dari jalan ceritanya. Interlude memiliki kesan jazzy. Kalau diasosiasikan secara visual (kebiasaan saya mengasosiasikan sesuatu dengan warna, rasa, atau apapun), saya mengasosiasikannya sebagai blue vintage. Biru hadir di pikiran saya mungkin karena warna sampul dan hubungannya dengan laut dalam cerita ini. Vintage sendiri hadir karena saya memang merasakan kesan vintage. Jadi, perpaduan biru dan vintage. And, I love blue, I love vintage.

Maka, saya memutuskan menyukai gaya penulis.

Salah satu pilihan kata favorit saja adalah "alat pemutar musik". Saya sempat mengira alat pemutar musik adalah pemutar musik yang biasa ada di kedai atau kafe, pengunjung bisa mendengarkan lagu pilihannya melalui alat itu dengan memasukkan koin dan yang diberikan pemilik kafe kepada Hanna adalah koin pemutarnya. Alat itu ada di salah satu episode Spongebob dengan Mermaid Man dan Barnacle Boy. Ternyata, alat yang dimaksud adalah semacam iPod, mp3 player, walkman, atau alat pemutar musik portabel lain. Saya suka pemilihan "alat pemutar musik" itu, bukan menyebutkan kata yang lebih populer. *atau mungkin saya terlalu kudet dengan kata itu*

Setelah dipikir-pikir, otak saya yang loading-nya agak terlambat. Kalau yang diberikan koinnya, harusnya bukan "alat pemutar musik", melainkan "alat pemutar kotak musik" atau semacamnya.

Di bagian awal, saya sempat kesal dengan Gitta. Gitta melarang Kai mendekati Hanna tanpa memberi alasan yang jelas. Saya rasa, orang seperti Kai tidak bisa dilarang tanpa alasan yang jelas. Benar saja, Kai memang tidak bisa dilarang. Belakangan, alasan Gitta tidak mengungkapkan alasannya dijelaskan oleh Gitta kepada Kai. Walaupun begitu, tetap saja saya kurang bisa menerima alasannya. Tapi, kalau Gitta menjelaskan alasannya sejak awal, cerita Kai dan Hanna mungkin tidak akan ada.

Gitta, Kai, dan Jun memiliki band beraliran jazz. Saya menyukai pemilihan aliran ini. Belum banyak novel yang berlatar belakang genre musik ini. Lagipula, saya menyukai Kai dengan jazz. Kalau bertemu Kai di jalan, saya pasti tidak akan mengira dia menyukai jazz, bahkan bukan sekadar jazz-pop yang masih mudah diterima. Gaya Kai lebih cocok dengan musik-musik populer Indonesia dan jazz masih hanya populer di kalangan tertentu. Mungkin ini semacam stereotipe terhadap bad boy.

Penggambaran Hanna tidak memaksa. Hanna tidak dipaksakan menjadi sosok yang menderita. Semua mengalir sehingga saya bisa merasakan emosi dari korban secara halus, bukan emosi seperti ketika mendengar berita yang membuat telinga panas atau juga berita tidak penting.

Hal yang paling menarik rasa ingin tahu saya tentunya interaksi Hanna dan Kai. Bagaimana Kai bisa meluluhkan gadis yang diliputi rasa takut. Bagaimana Hanna bisa mengatasi rasa takutnya. Hubungan Hanna dan Kai yang naik-turun menjadikan bagian akhir terasa sangat memuaskan.

Selain masalah Hanna dan Kai, novel ini juga menyajikan masalah keluarga. Mama Hanna yang terlalu protektif sehingga membuat Hanna tidak nyaman. Orangtua Kai yang tidak akur. Menjadi anak broken home-lah yang membuat Kai tidak memiliki tujuan. 


“Selama mungkin, aku ingin mempertahankan perasaan ini,” kata Kai. “Karena itu, Ma, Pa, tolong buat aku percaya. Tolong, katakan, perasaan ini tidak sia-sia.” – hlm. 246


Setiap tokoh dalam novel ini memiliki peran penting dalam membuat cerita semakin indah walaupun tidak secara langsung kepada tokoh utama. Tokoh seperti Jun pun membuat novel ini menjadi manis. Dia memiliki perasaan kepada Gitta, tetapi memilih mengalah sampai saat yang tepat. He’s a good boy. Dia tipikal cowok bermasa depan cerah dan seorang pemimpin. Jarang sekali saya menyukai good boy, tapi kali ini saya menyukai Jun.

Saya rasa, novel ini permulaan yang bagus bagi saya untuk mengenal penulisnya. Novel ini membuat saya tertarik membaca karya Windry Ramadhina yang lain.


Rating: 
Image source: mkalty, edited by me


4 komentar:

  1. Yeah... ini novel keren banget. Novel karya Windry Ramadhina yang paling kusuka. Kai yang brengsek tapi cool dan romantis. Hanna yang pendiam dan pemurung tapi sebenarnya berhati hangat. Kemudian yang paling aku suka sebenarnya kisah cinta antara Gitta dan Jun yang rumit namun akhirnya berakhir bahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gitta dan Jun juga salah satu sideline favoritku:)

      Hapus
  2. Setuju kak, aku juga memberikan 5 bintang untuk karya Windry Ramadhina yang ini. Kai, adakah orang sepertimu? Membuatku jatuh cinta ^^

    BalasHapus
  3. Novel ini memang novelnya mbk Windry yg paling keren kalau menurutku. Bener kata kakak, kalau Gitta menjelaskan alasannya sejak awal, kisah Hanna dan Kai tidak mungkin ada. Oh mungkin ada, tp berbeda :)

    BalasHapus