Senin, 07 Juli 2014

Wonder – R.J. Palacio






- Cover of Kindness -

Judul buku: Wonder
Penulis: R.J. Palacio
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Atria
ISBN: 9789790245082

DON’T JUDGE A BOY BY HIS FACE
“Kuharap, setiap hari adalah Halloween. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu kita bisa berjalan-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita di balik topeng.”

August (Auggie) Pullman lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit
yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja terlihat berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya,
dia adalah anak yang lucu, cerdas, dan pemberani.

Auggie mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie adalah anak biasa dengan wajah yang sangat tidak biasa.

 * * *

Setiap orang pasti pernah mengalami hal kurang menyenangkan semasa sekolah. Mulai dari kegugupan menghadapi kelas baru sampai hal mengerikan seperti bullying. Dengan wajah normal saja kita sering sulit menghadapi hal-hal itu, apalagi bagi penderita Mandibulafacial Dysostosis. Mereka harus menghadapi kehidupan “normal” sekolah ditambah tatapan-tatapan ngeri nyaris semua orang yang melihatnya.

Auggie harus berhadapan dengan ekspresi ngeri orang-orang. Ditambah menyebarnya isu mengenai wabah yang dibawa Auggie. Belum lagi sikap Julian yang memulai perang padanya. Situasi bertambah rumit ketika Jack, yang selama ini dianggapnya sahabat, membicarakan hal buruk mengenai dirinya. Sampai pada suatu titik, Auggie tidak mau bersekolah lagi.


“Kau harus sekolah lagi. Semua orang pun kadang-kadang benci sekolah. Kadang-kadang aku benci sekolah. Kadang-kadang aku benci teman-temanku. Tapi itulah kehidupan, Auggie. Kau ingin diperlakukan normal, kan? Seperti inilaj normal! Kita semua harus sekolah meskipun kadang-kadang kita mengalami hari yang buruk, oke?” – Via to Auggie


Don’t judge a boy by his face.

Selain kelainannya, Auggie sebenarnya baik dan cukup pintar. Dia bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik walaupun selama ini dia hanya sekolah di rumah. Dia juga teman yang menyenangkan.
Melalui buku ini, penulis menjelaskan bahwa kekurangan fisik tidak menyebabkan sifat seseorang memburuk. Tentunya diiringi dengan lingkungan tempat mereka tumbuh juga. 

Seperti orang-orang yang sesekali kaulihat, dan kau tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi orang itu, baik seseorang yang duduk di kursi roda atau seseorang yang tidak bisa bicara. Hanya saja, aku tahu bagi semua orang, orang itu adalah aku, mungkin bagi semua orang yang ada di auditorium ini.
Namun, bagiku aku hanyalah aku. Seorang anak biasa.
- Auggie

Selain menampilkan Auggie dari sisi dirinya sendiri, buku ini juga menampilkan Auggie dari sisi orang lain: Via (kakak Auggie), Jack, Summer (sahabat Auggie), Justin (pacar Via), dan Miranda (sahabat Via). Pada bagian-bagian itu, mereka menceritakan perasaan mereka terhadap Auggie, juga masalah yang mereka hadapi dengan kehadiran Auggie. 

Salah satu hal penting yang saya dapatkan dari buku ini adalah mengenai keluarga. Bagaimana keluarga akan selalu menerima kekurangan kita bahkan walaupun dunia ingin membuang kita jauh-jauh. 

Sejak awal mengetahui keadaan Auggie, keluarganya tidak sedikit pun mempermasalahkan kelainan itu. Bagi mereka, Auggie adalah anak biasa dan mereka menyayanginya seperti menyayangi anak biasa. Um, mungkin dalam hal perlindungan, mereka memang lebih protektif. Perlakuan luar biasa pada penderita kelainan hanya akan membuat penderita merasa dunia mereka berbeda.

Mandibulafacial Dysostosis adalah kelaianan yang penyebabnya bisa mutasi selama kehamilan, gen yang diwariskan dari salah seorang orangtua yang membawa gen dominan, atau interaksi dari banyak gen dikombinasikan dengan faktor lingkungan. Pada kasus Auggie, kedua orangtuanya membawa gen mutasi. Gen ini juga diturunkan pada Via, tetapi tidak muncul. 

Via melakukan perhitungan kemungkinan gen yang dibawanya menurun pada anak-anaknya dan anak-anak Auggie. 



Masalah genetika bagi saya selalu memusingkan. Sekarang, manusia berusaha menutupi gen tertentu dan memunculkan gen tertentu. Mereka ingin menghasilkan manusia sesuai keinginan – dan menghindari kejadian semacam Auggie. Bagi manusia lainnya, hal semacam itu masih dianggap tabu.
Melalui buku ini, penulis juga menekankan apa pun gen yang dibawa seseorang, hal terpenting adalah kebaikan yang dibawanya. Untuk apa manusia super dan sempurna kalau dia tidak memiliki kebaikan, kan? Kebaikan bukan hanya dibawa gen, melainkan faktor lingkungan. Gen seperti apa pun, akan menjadi baik kalau dia dididik makna kebaikan. 

Penulis juga tidak terlalu menekankan cerita pada penderitaan Auggie mengenai wajahnya, tetapi lebih pada cara membiasakan diri terhadap keadaan itu. Auggie cukup terbiasa dengan penilaian orang-orang walaupun pada awalnya dia takut harus bersekolah dan bertemu banyak orang setiap hari. Menurut saya, penulis tidak mau kita berfokus pada keadaan fisik seseorang.

Selain memberikan pembelajaran melalui Auggie, penulis juga memberikan pembelajaran melalui tugas bahasa Inggris murid-murid kelas 5. Setiap bulan, guru mereka - Mr Browne - memberikan sesuatu yang disebut pedoman setiap bulan. Mereka akan membahasanya dan pada akhir bulan murid-murid diminta membuat esai mengenai pedoman bulan itu. Pada akhir tahun, murid-murid diminta mengirim kartu pos berisi pedoman pribadi mereka yang mereka dapat saat liburan musim panas.

Bagi saya, cara seperti sangat menyenangkan untuk menghargai hal-hal kecil. Dari pedoman Mr. Browne, kita akan mencari makna dari pedoman tersebut. 




Saya rasa buku ini perlu dibaca orangtua dan anak-anak atau dibacakan oleh orangtua untuk anak-anak. Buku ini juga bisa menjadi selingan bergizi selain membaca genre favorit. Tapi, sedikit pesan, buku ini bukan tipe buku yang harus habis dalam sekali baca.

Rating:





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar