Rabu, 23 Juli 2014

Tomodachi - Winna Efendi


 - Friendship Charm -

Judul buku: Tomodachi
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Ke-1, Juli 2014
Jumlah halaman: 360
ISBN: 9797807320



Otō-san pernah bilang, kesedihan ada untuk dilepaskan, bukan untuk disimpan. Untuk setiap kesedihan, akan ada kebahagiaan baru yang dapat menggantikannya.

Sejak sebelum mengenalnya, Tomomi sudah sebal dengan Tomoki. Menyebalkannya, Tomomi harus rela sekelas dengan cowok itu, bahkan bangku mereka bersebelahan! Tomomi tidak bisa protes dan hanya bisa menerima nasibnya duduk di sebelah Tomoki sampai setahun ke depan.

Tomomi masuk ke Katakura Gakuen (SMA Katakura) karena satu hal: mengejar cintanya kepada Hasegawa senpai. Tomomi bermaksud mendekati Hasegawa senpai dengan menjadi manajer klub sepak bola, sayangnya dia kalah cepat dengan cewek bernama Miyazaki Tabitha. Cewek itu teman sekelas Tomomi, tetapi mereka tidak pernah bertegur sapa. Tabi juga menunjukkan tanda-tanda ketidaksukaannya pada Tomomi.

Tak kehabisan akal, Tomomi mendaftar ke klub atletik karena tempat latihan kedua klub itu bersebelahan. Tomomi bisa mengamati Hasegawa senpai dari tempat latihan klub atletik. Namun, di klub itu juga ada Tomoki.

Klub atletik membuat Tomomi dan Tomoki bersahabat. Tomomi pun menjadi suka dengan kegiatan klub, dia suka berlari. Tomomi juga suka melihat Tomoki yang berlari, seolah cowok itu memiliki sayap.

Lingkaran persahabatan terbentuk antara Tomomi, Tomoki, Chiyo (sahabat Tomomi), dan Ryuu (sahabat Tomoki dan anggota klub atletik). Tomoki juga selalu berusaha melibatkan Tabi karena cewek itu tidak memiliki teman, tapi tanggapannya selalu dingin.

"Kita tidak bisa menolong seseorang yang tidak mau ditolong." - Ryuu

Lingkaran itu bertambah dengan kehadiran Tabi. Suatu kejadian membuat Tabi membuka diri terhadap mereka. Padahal, kejadian itu menghancurkan niat Tomomi untuk menyatakan perasaan kepada Hasegawa senpai.

Lingkaran persahabatan itu pun lama-lama diwarnai perasaan lain: jatuh cinta kepada sahabat. Dan, seperti halnya Tomomi, Tabi pun menyimpan perasaan yang sama kepada Hasegawa senpai, bahkan lebih besar. 

"Cinta itu rumit, ya. Orang yang kau sukai tidak selalu membalas perasaanmu. Kadang kau jatuh cinta pada orang yang salah. Dan kadang, kau bahkan tak sadar ada orang yang selama dengan tulus menyukaimu." - Tabi

Persahabatan mereka pun diwarnai pertengkaran. Tomomi merasa telah salah memercayai Tomoki. Kemarahan Tomomi berhasil menyakiti perasaan Tomoki. 

Di tengah suka duka yang mungkin menghampiri masa SMA, musibah menghampiri Tomoki. Dia tidak bisa berlari lagi seperti dulu. Salah satu sayapnya patah.

* * *

Ada satu kalimat yang sering saya dengar di anime, drama, atau film jepang: Watashitachi tomodachi dakara - Because we are friends. Novel ini mewakili kalimat tersebut, sama halnya dengan judulnya yang berarti teman. Sebuah persahabatan masa SMA yang terbentuk ketulusan.

Ceritanya sederhana, tetapi mendalam. Bagi penggemar manga, terutama shoujo (manga cewek), pasti pernah menemukan pola cerita semacam ini. Perasaan tersembunyi yang disimpan bertahun-tahun, persahabatan yang dimulai dari ketidaksukaan, perjuangan menggapai mimpi, perubahan rasa terhadap sahabat. Setidaknya, hal-hal itu pernah ditemukan di beberapa shoujo walaupun tidak lengkap berada dalam satu shoujo. Shounen (manga cowok) favorit saya juga mempunyai hal-hal itu, minus perasaan tersembunyi selama bertahun-tahun.

Bagi yang belum pernah membaca manga dan ingin mengetahui seperti apa cerita manga, novel ini bisa menjadi alternatif. Saya sendiri membayangkan novel ini dalam bentuk manga ketika membacanya. Kalau dijadikan manga, mungkin novel ini akan menyerupai Kimi ni Todoke atau Popcorn (lupa-lupa ingat dengan manga ini). Kedua manga ini memiliki ritme yang hampir sama, saya rasa. Walaupun suka, saya kurang bisa mengingat judul dan detail shoujo yang pernah saya baca karena sebagian besar yang saya baca adalah kisah yang selesai dalam satu buku.

Terlepas dari perasaan seperti membaca manga, membaca novel ini juga seperti membaca novel terjemahan. Karena semua tokoh adalah orang Jepang, kata-kata yang digunakan adalah kata-kata baku, seperti pada novel terjemahan. Percakapan pun tidak menggunakan kata semacam "nggak" atau kata-kata lain yang lebih sering diucapkan ketimbang bentuk bakunya. 

Hal yang berbeda adalah penggunaan bahasa Jepang. Beberapa kalimat menggunakan bahasa Jepang full. Semua kalimat dalam novel terjemahan biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin hal ini dimaksudkan agar pembaca bisa sedikit belajar bahasa Jepang.

Dari segi cerita mengenai pencapaian mimpi, novel ini lebih menekan pada mimpi sebagai pelari. Mimpi Tomomi untuk menjadi animator hanya selewat, seolah hanya menggenapkan Tomomi dan Tomoki sama-sama mempunyai mimpi. Mungkin ini karena Tomomi menyukai dunia atletik juga. Di sisi lain, mimpi menjadi animator itu juga membuktikan bahwa memiliki lebih dari satu mimpi bukan hal yang tidak mungkin.

"Mimpi adalah sebuah destinasi, Tomomi. Yang harus dilakukan selanjutnya adalah mengambil langkah pertama untuk bergerak menuju mimpi tersebut." - Akiyama sensei

Bagian favorit saya adalah ketika membuat kapsul waktu. Itu adalah salah satu hal yang masih saya inginkan sampai sekarang. Mengubur benda berharga untuk dikenang dan ketika dibuka suatu saat sepertinya menyenangkan. 

Penulis juga tidak melewatkan acara-acara penting yang biasanya ada di sekolah-sekolah di Jepang, seperti festival kebudayaan dan festival olahraga. Festival Tanabata, yang menjadi salah satu festival paling terkenal dari Jepang, juga tidak ketinggalan hadir di novel ini. 

Selain festival-festival tersebut, acara penting yang selalu ada di setiap sekolah pun disajikan: UAS.  Kalau diperhatikan, ada perbedaan pada adegan UAS (termasuk persiapannya) antara novel Indonesia, Asia Timur, atau Amerika. Persiapan UAS dalam novel Asia Timur biasanya lebih mengedepankan perjuangan bersama-sama, semacam prinsip "Satu naik kelas, semua naik kelas. Persiapan UAS dalam cerita a la Amerika yang saya baca umumnya lebih mengedepankan perjuangan individu. Persiapan a la Indonesia bisa dilihat sendiri kan, ya.

Di novel ini, saya juga menemukan Natsu dan Sei walaupun hanya sepintas. Bagi yang pernah membaca Ai, mungkin ingat dengan nama dua tokoh ini. Saya bertanya-tanya apakah ada makna tertentu dari dua nama tersebut atau mungkin nama-nama itu adalah nama-nama favorit penulis. Atau mereka itu yang disebut cameo?

Hal yang paling saya sayangkan dari novel ini adalah ... tanda tangan penulis. Saya mengira akan menemukan tanda tangan dengan pulpen warna-warni, tapi ternyata hanya pulpen hitam biasa. *nggak penting* *skip*

^^v

Rating







1 komentar: