Jumat, 25 Juli 2014

The Fault in Our Stars - John Green


Tema Baca dan Posting Bareng 2014 kali ini adalah sicklit, buku yang menceritakan orang sakit. Temanya menyedihkan, tapi buku yang saya baca tidak membuat saya sedih, justru bahagia bisa membacanya.




Judul buku: The Fault in Our Stars
Penulis: John Green
Penerjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Qanita
Cetakan: Ke-3, Juni 2014
Jumlah halaman: 424
ISBN: 9786021637395

Meski keajaiban medis mampu mengecilkan tumornya dan membuat Hazel bertahan hidup beberapa tahun lagi, Hazel Grace tetap putus asa. Hazel merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia. Namun, ketika nasib mempertemukannya dengan Augustus Waters di Grup Pendukung Anak-Anak Penderita Kanker, hidup Hazel berubah 180 derajat.

Mencerahkan, berani dan menggugah, The Fault in Our Stars dengan brilian mengeksplorasi kelucuan, ketegangan, juga tragisnya hidup dan cinta.
* * *
Jujur saja, menurut saya, "putus asa" berlebihan. Dari awal hingga akhir, saya tidak merasakan Hazel putus asa. Hazel tahu kankernya bukan jenis yang bisa disembuhkan, tapi "putus asa" selalu identik dengan melamun, apati, atau melakukan tindakan-tindakan nekat. Hazel masih menjalani kehidupan normal, dengan sedikit Keistimewaan Kanker dan selalu diikuti tangki oksigen karena tumornya menjalar ke paru-paru.

Hazel tidak menyukai Kelompok Pendukung. Baginya, kelompok itu membosankan. Dia ingin menghindari pertemuan rutin itu, tetapi ibunya selalu memaksa. 

Suatu hari, Augustus Waters menghadiri kelompok itu. Dia pernah menderita osteosarkoma (suatu jenis kanker tulang). Kanker itu membuatnya kehilangan kaki kanan, tetapi sudah diganti dengan kaki palsu. Dia sudah dinyatakan NEC (no evidence cancer), dan datang ke pertemuan itu hanya untuk menemani Isaac. Isaac-lah satu-satunya penyelamat Hazel dari kebosanan pertemuan Kelompok Pendukung setiap minggu.

Pertemuan itu dilanjutkan menonton bersama di rumah Augustus. Augustus berhasil menarik Hazel dengan pandangan metaforanya. Augustus adalah cowok penuh optimisme. Mereka bertukar hal-hal yang mereka sukai. Augustus meminjamkan Hazel buku Ganjaran Fajar dan Hazel meminjamkan Gus buku Kemalangan Luar Biasa.

Kemalangan Luar Biasa-lah yang kemudian membawa mereka ke Amsterdam. Buku itu memiliki akhir menggantung. Hazel dan Augustus sangat ingin mengetahui lanjutan dari buku yang tidak akan ada sekuelnya itu. 

Anak-anak penderita kanker memiliki hak istimewa dari lembaga sosial untuk dipenuhi satu Keinginan. Hazel pernah menggunakan jatah Keinginannya. Maka, Augustus mengorbankan Keinginannya agar mereka bisa pergi ke Amsterdam dan menemui Peter Van Houten, penulis Kemalangan Luar Biasa. 

Berbekal harapan mendapat penjelasan dari Peter Van Houten, Hazel, Augustus, dan ibu Hazel pun pergi ke Amsterdam secara gratis. Sayangnya, kenyataan tidak menyenangkan juga terungkap bersama perjalanan itu.

* * *

Awalnya, saya mengira akan mendapat cerita mendepresikan dengan tokoh yang berjuang melawan kanker. Ternyata, begitu membaca halaman pertama, perkiraan itu langsung hilang. 

Buku ini menggunakan sudut pandang pertama Hazel. Penulis membuat Hazel bercerita seperti pada novel-novel remaja terjemahan lainnya. Saya tidak menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Kalau pernah membaca novel remaja terjemahan, mungkin maksud saya bisa dimengerti.


Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca mengerti mengenai para penderita kanker, bukan mengasihaninya. Sama halnya seperti orang-orang yang sakit "biasa", tidak semua orang mau dikasihani.

Hazel membuat saya tahu perasaan penderita kanker ketika mencintai seseorang. Hazel mungkin bisa mencintai, tetapi takut dicintai. Hazel takut menjadi granat karena tahu waktunya tidak banyak. Apa pun alasannya - termasuk kematian, meninggalkan seseorang akan menyebabkan hatinya patah.

Memiliki hubungan dengan penderita kanker berarti harus bersiap kehilangan. Penderita kanker juga sebisa mungkin meninggalkan kenangan yang "halus" supaya kehilangannya tidak menyebabkan putus asa.

Berbeda dengan Hazel yang ingin meminimalisasi orang-orang yang kehilangannya, Augustus takut dilupakan selamanya. Dia ingin selalu dikenang. Kalau mungkin, saya yakin dia sudah melakukan aksi paling luar biasa sepanjang sejarah umat manusia agar dirinya bisa diingat semua orang dan terus berlanjut diceritakan manusia. Hazel memberikan pandangannya mengenai hal itu. Semua manusia pasti akan dilupakan, Aristoteles sekali pun. Akan ada saatnya semua manusia mati sehingga tidak tersisa seorang pun untuk mengenang orang lain.

Saya rasa, banyak orang sehat pun takut dilupakan. Jadi, saya setuju dengan pendapat Hazel (pendapat John Green). Hal yang lebih penting daripada diingat adalah kita meninggalkan hal baik yang berguna.

Buku ini sudah difilmkan. Dari trailer yang saya lihat, bagian-bagian penting dipertahankan. Walaupun ada beberapa adegan yang sedikit berbeda, mungkin itu karena untuk lebih mendapatkan sentuhan visual. Saya belum menonton filmnya. Saya menunggu DVD-nya karena takut akan lebih sulit melupakan taste dari film daripada novel. Kalau punya sendiri kan bisa ditonton berkali-kali. ^^

Trailernya bisa dilihat di sini.

Sejujurnya, kalau buku ini tidak dijadikan film, saya belum tentu mau membaca buku ini. Saya ingin tahu perbedaan cerita TFiOS dengan cerita dari buku tentang kanker lainnya sampai dibuat film dan sepertinya filmnya sangat ditunggu-tunggu.

Saya akui, kanker adalah salah satu penyakit yang paling saya takuti. Ketakutan saya kurang lebih sama seperti ketakutan Hazel, ditambah takut dengan pengobatannya. Dari semua cerita kanker, bagian pengobatan adalah bagian yang menyiksa. Saya sempat berpikir pengobatan kanker bisa mempercepat kematian ketika guru saya mengatakan sebagian penderita kanker meninggal karena kekurangan gizi. Pengobatan kanker kan bisa membuat tidak nafsu makan dan muntah-muntah. Tapi, setelah dipikirkan lagi, kalau tidak diobati, kanker bisa menyerang organ-organ penting dan menghentikan kerjanya, sama saja dengan kematian. *kenapa jadi curhat*

Hal yang mau saya katakan adalah, walaupun saya suka dibuat terharu oleh perjuangan penderita dan keluarganya, saya baru merasa cerita tentang kanker begitu-begitu saja sebenarnya. Aura true love dan efek mengalir lambat serta tenang yang membuat saya menyukai semua cerita itu. Buku ini, walaupun saya sempat merasa lambat (karena ternyata hampir semua bagian penting membentuk ending), saya merasa buku ini dinamis.

Fakta-fakta mengenai penyakit dan tindakan medis tidak hanya diuangkapkan melalui deskripsi atau monolog panjang lebar, tapi juga melalui beberapa adegan atau percakapan biasa. Mungkin seperti kita membicarakan flu atau menggambarkan keadaan rumah sakit ketika kita dirawat karena peradangan lambung.

Satu hal yang saya sayangkan dari buku ini adalah sampulnya. Saya mendapat sampul dengan cover film. Sampul yang berwarna birunya sepertinya sudah tidak ada. Ini murni selera pribadi. Saya kurang menyukai sampul buku bergambar manusia nyata. Mau beli edisi bahasa Inggris, harganya sama dengan harga dua novel Indonesia. Hehe.

Sebelum saya mengakhiri review ini, saya ingin berbagi quotes.
"Kepedihan menuntun untuk dirasakan." - Augustus to Isaac

"Astaga, kau hebat," kataku. 
"Aku yakin kau berkata begitu kepada semua cowok yang membiayai perjalanan internasionalmu," jawabnya. (Hazel & Augustus)

"Oh, aku tidak keberatan, Hazel Grace. Akan merupakan keistimewaan jika kau mematahkan hatiku." - Augustus to Hazel

"Ketidaktahuan adalah kebahagian." - Hazel to Augustus

"Dunia," katanya, "bukanlah pabrik perwujudan keinginan." - Augustus to Hazel

"Bahkan ketika kau meninggal, aku akan masih menjadi ibumu, Hazel. Aku tidak akan berhenti menjadi ibumu." - Mom to Hazel

Rating:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar