Kamis, 24 Juli 2014

Our Story - Orizuka


Tema Baca dan Posting Bareng BBI 2014 kali ini adalah masalah remaja atau keluarga. Sejak mengetahui tema ini, saya sudah mengetahui buku yang akan saya baca. Buku ini adalah salah satu buku favorit saya padahal saya membelinya karena penasaran dengan penulis. Saat itu nama Orizuka sedang naik daun karena Fate. Saya memilih membaca buku ini dulu karena lebih tipis dibanding Fate, jaga-jaga kalau gaya penulis tidak sesuai selera. Dan. . . sampai sekarang saya belum membaca Fate. ^^v





- (Never) Conquering World -

Judul buku: Our Story
Penulis: Orizuka
Penerbit: Authorized Books
Cetakan: ke-1, 2010
Jumlah halaman: 240
  

Masa SMA.
Masa yang selalu disebut sebagai masa paling indah,
tapi tidak bagi anak-anak SMA Budi Bangsa.

SMA Budi Bangsa adalah sebuah SMA di pinggiran ibukota yang terkenal dengan sebutan SMA pembuangan sampah, karena segala jenis sampah masyarakat ada di sana.

Preman. Pengacau. Pembangkang. Pembuli. Pelacur.

Masuk dan pulang sekolah sesuka hati.
Guru-guru honorer jarang masuk dan memilih mengajar di tempat lain.
Angka drop out jauh lebih besar daripada yang lulus.

Sekilas, tidak ada masa depan bagi anak-anak SMA Budi Bangsa,
bahkan jika mereka menginginkannya.

Masa SMA bagi mereka hanyalah sebuah masa suram yang harus segera dilewati.

Supaya mereka dapat keluar dari status 'remaja' dan menjadi 'dewasa'.
Supaya tak ada lagi orang dewasa yang bisa mengatur mereka.
Supaya mereka akhirnya bisa didengarkan.

Ini, adalah cerita mereka.

 * * *
"Worst of the worst. Last stop." - Ferris to Yasmine


Yasmine seharusnya bersekolah di sekolah internasional, bukan di sekolah pembuangan. Gara-gara orang kepercayaan teman ayahnya yang salah dengar, Yasmine didaftarkan ke SMA Budi Bangsa, bukannya SMA Bukti Bangsa. SMA Budi Bangsa merupakan salah satu SMA terkenal di Jakarta, tetapi dalam hal negatif: murid laki-laki terkeenal sebagai preman dan murid perempuan terkenal sebagai pelacur.


Yasmine ingin pindah, tetapi kepala sekolahnya sudah terlanjur menjadikan uang pendaftaran tiga puluh juta dari ayahnya menjadi "penghias" ruangan kepala sekolah. Mau tak mau, Yasmine bertahan di sekolah itu. Di Indonesia maupun di Amerika, masa SMA-nya tidak pernah baik.


Di sekolah itu, Yasmine bertemu murid-murid yang sama sekali tidak biasa. Mereka adalah murid-murid yang diterima di sekolah lain. Nino, ketua geng sekolahnya yang ditakuti seantero Jakarta. Mei, cewek yang menyatakan dirinya profesional (sebagai pelacur). Sisca, cewek yang iri karena Yasmine menarik perhatian Nino dan berhasil menguak masa suram Yasmine. Satu-satunya murid normal di sekolah itu adalah Ferris, kehadirannya di sana adalah untuk penebusan masa lalu.

Guru-guru di sana pun tidak bisa diharapkan. Tak jarang mereka memilih tidak masuk kelas. Mereka sudah menyerah dengan perilaku murid-murid Budi Bangsa. Bahkan, mereka sama sekali takut terhadap Nino. Dengan gaji yang kecil, mereka tidak bisa hanya bergantung dari sekolah itu.

Bagi murid-murid SMA Budi Bangsa, masa SMA hanyalah sebuah masa yang harus dilalui untuk menjadi "dewasa", lulus atau pun tidak lulus Ujian Nasional.

"Mimpi itu nggak nyata. Kita hidup dalam kenyataan, Ris. Gue nggak bisa bertahan hidup hanya dengan bermimpi."- Mei to Ferris

* * *



Saya tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang membaca buku ini. Buku ini memang bukan buku cerah ceria, justru sebaliknya. Buku ini bisa dibilang suram. Tapi, justru kesuraman itulah yang membuat saya tersenyum, kecuali pada bagian kekerasan dan kematian.


Pertama kali membaca buku ini adalah ketika saya masih berseragam putih-abu-abu. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah saya menyesal membaca buku ini saat itu. Kenapa saya tidak membaca lebih awal? Jujur saja, saya pernah berpikir seperti murid-murid SMA Budi Bangsa: SMA hanya salah satu fase kehidupan yang perlu dilalui. Buku ini mengubah cara pandang itu. 

Penulis berhasil membuat saya mensyukuri masa SMA saya. Suatu masa yang normal dan damai, bukan masa seperti yang dialami murid-murid SMA Budi Bangsa. Entah bagaimana kalau saya sampai terjebak di sekolah semacam itu. Pandangan saya mengenai sekolah saya yang biasa saja, membosankan, tidak ada apa-apanya, bukan sekolah unggulan, seketika berubah. Di mana pun, seperti apa pun, sekolahnya, yang terpenting adalah menikmati masa itu.

Buku ini tidak hanya membahas mengenai sekolah. Buku ini juga membahas mengapa murid-murid di sana berbeda, mengapa mereka menjadi sampah. Selalu ada alasan untuk setiap tindakan. Seperti halnya sampah yang tidak akan menjadi sampah kalau kita tidak menganggapnya tidak berguna, begitu pula murid-murdi SMA Budi Bangsa, masing-masing memendam luka.

Tokoh favorit saya adalah Nino. Nino mengingatkan saya pada Megamind. Nino memang bukan penjahat yang menghancurkan sekolah, tapi kemudian menyelamatkan sekolah seperti yang dilakukan Megamind terhadap kotanya. Nino hanya ketua geng yang tidak pernah mau mencari masalah dengan pihak luar. Dia pun sebenarnya tidak mau menjadi ketua, tapi tanpa ketua, sekolahnya akan mudah diserang. Dia diangkat menjadi ketua setelah berhasil mengirim ketua geng sebelumnya ke rumah sakit.

Walaupun tidak mau mencari masalah dengan pihak luar, Nino sangat ditakuti di sekolah. Cukup melihat tongkat baseball-nya saja, sudah membuat orang-orang ketakutan. Nino juga tidak segan-segan memberi pelajaran berharga kepada siapa pun yang mengkhianatinya.

Nino pun sebenarnya pernah memiliki kejayaan. Dia adalah seorang mantan jenius. Karena hal yang bukan kesalahannya, dia dibuang. Hal semacam itulah yang membuat Superman sekali pun bisa menjadi Voldemort.

Ada satu hal yang nyaris selalu menjadi isu remaja: krisis kepercayaan terhadap orang dewasa. Superman dalam kisah ini pun mengalami krisis itu. Saya belum menjadi orang dewasa. Jadi, mungkin saya sendiri terkadang mengalami krisis itu. Saya tahu, seperti kata ibu Mei, orangtua mungkin bermaksud melindungi, tetapi kadang cara mereka salah. Hal itu menimbulkan krisis kepercayaan.

Kadang, saya juga merasa orang dewasa kurang percaya kepada kami, anak-anak. Bagi saya, justru hal itulah yang menyebabkan kami tidak bisa memercayai orangtua. Kalau mereka kurang memercayai kami, bukankah mereka belum mengenal kami sepenuhnya? Bagaimana kami bisa memercayai pihak yang belum mengenal kami sepenuhnya? Itulah yang sering saya pikirkan sejak masih memakai seragam bertuliskan OSIS pada bagian saku.

Tapi, ada juga orang dewasa yang seolah dalam hidupnya ditakdirkan menjadi orang dewasa yang menyebalkan. Contohnya, Tama, kepala sekolah. Dia mungkin sudah menyerah menghadapi murid-muridnya, tapi itu bukan berarti dia bisa menjadi seperti koruptor dan berbuat seenaknya demi mengangkat nama sekolah.

"Saya pikir saya bisa sedikit percaya sama orang dewasa, tapi saya salah. Kalian semua mengecewakan kami." - Ferris to Tama

Melalui buku ini, saya rasa, penulis mengajak kita – anak-anak dan orang dewasa – untuk saling percaya. Penulis juga mengajak kita untuk lebih peduli, tidak menghakimi sebelum mengetahui secara mendalam. Tentunya, bersama buku ini juga, semangat untuk bersekolah dan meraih cita-cita bisa meningkat.

Sekolah adalah tempat yang menyenangkan, tempat kita bisa merasa aman, tempat kita berkumpul bersama orang-orang yang memiliki mimpi dan cara pandang yang sama. Seharusnya, sekolah bukan tempat yang dilingkupi rasa takut dan tekanan. Sekolah bukan hanya tempat memelajari segala macam ilmu Matematika, IPA, IPS, dan semacamnya, tapi juga tempat mempersiapkan diri untuk melangkah menuju dunia orang dewasa yang seringkali tidak hangat, membuat dunia itu menjadi dunia yang hangat. Seharusnya.

"Karena . . . dateng ke sekolah adalah satu-satunya hal yang bisa bikin gue merasa gue masih tujuh belas tahun." - Mei to Ferris

Rating:
 

4 komentar:

  1. Reviewnya keren, kak.
    Pengen bisa baca buku ini. Btw, aku suka novel-novelnya Orizuka, lho. Tapi, sayangnya buku ini belum ada :( review kaka sukses bikin aku greget pengen baca buku ini. Kaka harus tanggung jawab^_^
    eh tapi, aku belum 3 tahun pake KTP-nya nih :D

    BalasHapus
  2. Aduh! Itu kak, kok jadi nggak nyambung komentarku yg dibwahnya. "Belum 3 tahun pake KTP" padahal itu yg di review-nya Crash On You. Tadinya mau koment yg itu, tapi pas liat novel Orizuka langsung baca juga. Jadi gitu deh. Haha

    BalasHapus
  3. Aduh! Itu kak, kok jadi nggak nyambung komentarku yg dibwahnya. "Belum 3 tahun pake KTP" padahal itu yg di review-nya Crash On You. Tadinya mau koment yg itu, tapi pas liat novel Orizuka langsung baca juga. Jadi gitu deh. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf. T.T aku baru tau ada komentar di sini.
      makasih komentarnya. :)
      bukunya memang udah jarang sekarang. udah cek ke Kak Ori-nya? mungkin masih ada.
      anyway, walaupun belum 3 tahun pake KTP, kalau udah sanggup sih nggak apa-apa. hehe. kalau belum, sabar aja. nggak lama lagi kok. ;)

      Hapus