Kamis, 31 Juli 2014

Towards Zero – Agatha Christie




-  Skenario Artis yang Terguncang -

Judul asli: Towards Zero
Judul terjemahan: Menuju Titik Nol
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Windrati Selby
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 304
Cetakan: Ke-6, Januari 2013
ISBN: 9789792291766


Para tamu: 
Mr. Treves–Pengacara dengan segudang pengalaman. Usianya delapan puluh tahun. Kenangannya akan suatu pembunuhan pada masa lalu menyebabkan kematiannya.

Nevile Strange–Tampan bagai Dewa Apollo dan olahragawan serbabisa. Layak disebut pria paling beruntung, kaya raya, reputasinya tanpa cela, dan punya dua istri cantik–tapi, dia tidak bahagia.

Kay Strange–Muda belia, cantik jelita, dengan temperamen yang gampang meledak-ledak–lebih-lebih bila berhadapan dengan istri pertama Nevile.

Audrey Strange–Kecantikannya yang klasik tapi tidak mencolok mengusik ketenangan Gull’s Point, dan membuat istri muda Nevile tak dapat mengusai diri.

Thomas Royde–Dijuluki “Thomas yang Lurus” oleh saudara angkatnya, Audrey. Di balik penampilannya yang serbakikuk dan pendiam, dia menyimpan gelora asmara yang membara.

Ted Latimer–Pria muda yang tampan. Teman lama Kay Strange, yang setiap kali selalu muncul mengusik kehidupannya.


Tuan rumah:
Lady Camilla Tressilian–Wanita tua yang invalid. Suka sekali menjamu tamu-tamu di rumahnya. Tapi hobinya itu menjadi petaka ketika suatu kali di rumahnya berkumpul apa yang disebutnya segitiga abadi.

Mary Aldin–Sabar, penuh perhatian, efisien, dan nyonya rumah yang baik. Setia menemani Lady Camilla dan melayani kebutuhannya. Kali ini, kesabarannya benar-benar diuji.

Seorang tokoh penting lain:
Andrew MacWhirter–Berniat bunuh diri, tapi gagal karena tersangkut pohon dan diselamatkan penjaga pantai. Beberapa bulan kemudian, di tempat yang sama, dia menyelamatkan nyawa wanita yang putus asa.

September. Para tamu berkumpul di Gull’s Point. Suatu pertemuan yang direncanakan. Permainan psikologis seolah penulis skenario menjadi salah satu orang yang dijebak.
Mr. Treves meninggal karena jantungnya lemah ketika kembali ke hotel. Lady Tressilian dibunuh dengan pukulan di kepala. Namun, itu semua hanya permulaan untuk pertunjukkan sesungguhnya.

* * *

Saya menyukai Agatha Christie sejak membaca lembar pertama Gajah Selalu Ingat. Penyuka cerita detektif mungkin merasakan cerita detektif favorit mereka mungkin memiliki pola yang hampir sama. Dengan banyaknya tokoh detektif yang diciptakan Agatha Christie, penulis bisa menciptakan pola yang sedikit berbeda. Terlepas dari tokoh detektif, kasus dalam novel ini pun disajikan berbeda.

Cerita misteri biasanya dimulai dengan pembunuhan. Di novel ini, pembaca harus bersabar menanti pembunuhan sambil memikirkan apa yang kira-kira dipikirkan pelaku. Pembuhuhan baru muncul pada bagian tengah. 

Pembaca digiring masuk ke dalam panggung yang dibuat pelaku, bukan sekadar mendapat keterangan-keterangan flashback dari para saksi. Karena itu, ketika para saksi dimintai keterangan, pikiran pembaca tidak sama sekali kosong mengenai para tokoh.

Pembunuh dalam novel ini bisa dikatakan cerdas dan tidak berhati. Dia menggunakan trik psikologi. Fakta diputar-putar. Bukti-bukti terang dan gelap. Tetapi, hati pembunuh itu sama sekali gelap. Bagian puncak rencananya adalah cara “baik” membunuh seseorang tanpa pernah diduga menjadi pembunuh, melalui jalan yang “adil”. Saya cukup dikejutkan dengan motif pembunuhan karena sejak awal target pembunuhan tampak baik. Yah, memang tidak ada orang baik yang menjadi target pembunuhan, setidaknya itu yang akan dipikirkan pelaku pembunuhan mana pun, kan?

Berbeda dengan motif yang membuat saya terkejut, pelaku tidak terlalu memberi saya kejutan. Sejak awal, penulis sepertinya sengaja memberitahukan trik macam apa yang digunakan pelaku. Terdapat kasus kecil dalam novel ini, yang penyelesaiannya menyerupai kasus utama.

Untuk novel misteri, porsi drama dalam novel ini cukup banyak. Istri pertama dan istri kedua bertemu tentu bisa menimbulkan ketegangan, tapi yang emosinya lebih meluap justru istri kedua. Ada juga kisah cinta Thomas Royde. 

Tokoh detektif dalam novel ini adalah Inspektur Battle. Dia menyukai tokoh detektif fiksi Hercule Poirot.   Rasanya lucu membayangkan tokoh fiksi menyukai dan terinspirasi tokoh fiksi lain, terutama ketika kedua tokoh itu ditulis penulis yang sama. Kedua tokoh itu seolah berada di dunia berbeda padahal keduanya sama-sama berada di dunia fiksi.

Inspektur Battle memang tidak seperti Hercule Poirot. Dia bahkan hanya seperti petugas kepolisian bagian kriminal. Ini pertama kalinya saya mengenal tokoh tersebut. Cara Inspektur Battle menangani kasus memberikan warna baru bagi saya. Inspektur Battle bukan tokoh sentral, kehadirannya memberikan kesan smooth untuk sebuah novel misteri.

Saya rasa saya tidak perlu mengatakan saya merekomendasikan novel ini untuk siapa. Pembaca review ini saya yakin sudah bisa menentukan.

Quotes:
“Kesetian,” kata si wanita tua. “merupakan sifat-sifat yang akan sangat dihargai oleh seseorang yang telah melewati banyak masa-masa sukar seperti Audrey. Pengabdian sepanjang hidup sering kali mendapat penghargaannya. Thomas.” – Lady Tressilian to Thomas Royde (hlm. 94-95)

“Kadang-kadang kita ditempatkan pada posisi yang meminta pertanggungjawaban. Tindakan yang harus diambil tak mudah ditentukan.” – Mr. Treves (hlm. 107)

“. . . Maniak tidak seperti itu. Beberapa dari penjahat gila yang paling berbahaya sama normalnya dengan Anda dan saya . . .” – Inspektur Battle to Mary Aldin (hlm. 239)

Rating:


2 komentar:

  1. Salah satu novel favorit saya :D. btw Battle bukan menyukai Poirot sebagai karakter fiksi, ia memang mengenal Poirot dalam dunia yang sama ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah. saya baru kenal Battle, jadi salah tangkap. makasih koreksinya.:)

      Hapus