Selasa, 15 Juli 2014

Little Edelweiss – Nita Trismaya


- River Flows Love -

Judul buku: Little Edelweiss
Penulis: Nita Trismaya
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Ke-1, 2014
Jumlah halaman: 165
ISBN: 9797958477


Ketika sahabat pindah ke tempat lain maka sebagian dari sejarah hidup kita pergi bersamanya.

Kika adalah cewek SMA yang begitu mencintai alam bebas. Dan, Arka, cowok penakluk gunung, pencumbu alam raya. Di ekskul pecinta alam, mereka adalah teman dekat. Sedekat gunung dengan lembah atau selekat pantai dengan lautan. Ternyata, alam bebas sanggup membuat perasaan mereka melebihi rasa dari sepasang sahabat. 

Mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia adalah impian Kika dan jatuh cinta adalah dilemanya terhadap Arka. Kisah ini akan banyak dihiasi pengalamn dan keseruan mereka di alam bebas. Pengalaman yang mampu membuat mereka belajar tentang persahabatan, cinta, dan pendewasaan diri.

* * *

Dari judulnya, sudah bisa ditebak novel ini menceritakan tentang apa. Edelweiss adalah bunga yang tumbuh di pegunungan. Bisa dipastikan novel ini berlatar pegunungan dan kemungkinan besar menceritakan pecinta alam. 

Novel ini remaja banget. Awal-awal saya membaca novel, ya novel semacam ini. Ceritanya ringan. Kalimatnya tidak berbelit-belit. Tokohnya pun remaja impulsif. Saya kira, para ABG yang baru akan belajar membaca novel bisa mencoba novel ini. Saya kira juga, pasar utama novel ini adalah remaja SMP.

Novel ini menceritakan persahabatan cewek-cowok. Kali ini, sejak awal dua-duanya sudah terlihat saling suka. Masalahnya, Arka lebih dulu menyukai Kika, tapi tidak berani mengakui perasaannya pada Kika. Kika masih remaja labil yang ingin merasakan cinta romantis dan lebih memilih Brian.  Kemudian, muncul Dea, mantan pacar Arka.

Karena menceritakan pecinta alam, walaupun alam tidak hanya gunung, tidak lengkap tanpa adegan tersesat di gunung. Ada juga bagian ketika salah satu dari mereka menghilang dan tentunya disertai adegan hipotermia. Dari sini, saya baru tahu bahwa seseorang yang hipotermia tidak boleh kehilangan kesadaran supaya tidak kehilangan kesadaran selamanya (padahal kalau kedinginan lebih enak tidur *eh*).  Sayangnya, mungkin karena novel ini tipis, eksekusinya kurang menusuk.

Deskripsi penulis tentang keadaan suatu gunung cukup detail. Penulis juga menyelipkan beberapa trivia mengenai cara bertahan hidup di alam bebas. Saya baru benar-benar mengerti kenapa saya tidak boleh mengikuti ekskul PA. Naik-turun gunung tidak semudah naik-turun Puncak.

Kekurangan novel ini . . . mungkin hanya kurang bumbu. Bumbu-bumbu yang bisa dianggap penting tentunya. Walaupun sasarannya abege, kalau diberi bumbu lebih, pasti lebih membuat perasaan naik-turun gunung. Mungkin Kika bisa lebih dibawa terbang-jatuh-terbang-jatuh oleh Brian atau Arka. 

Dari segi spelling, layout, atau cover yang biasanya saya komentari, kali ini tidak ada komentar. Saya menyukai semuanya. 

“Jenis cinta secara garis besar terbagi tiga: Passion, intimacy sama commitment. Cinta romantis. Cinta tanpa arti. Cinta persahabatan.” Arka to Kika

Rating:

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar