Jumat, 18 Juli 2014

First Love Forever Love - Shu Yi






- Cinta, Harta, Air Mata -



Judul buku: First Love Forever Love
Penulis: Shu Yi
Penerjemah: Pangesti Bernadus
Penerbit: Serambi
Jumlah halaman: 548
Cetakan: Ke-5, November 2010
ISBN:9789790242050

Bahagia rasanya bisa menyelesaikan novel ini dalam tiga hari. Biasanya saya membaca sedikit-sedikit, lalu belakangan menjadi terbengkalai.

Memaksakan diri menulis review padahal masing pusing. Saya nggak mau merasa ada utang review.

Oke, saya betul-betul bingung kenapa saya membeli novel ini? Novel ini sepertinya saya beli di zaman saya masih polos dan lagu. Jadi, agak aneh saya membeli novel semacam ini. Biasanya, saya membaca novel fantasi, misteri, atau roman ringan yang saya yakin tidak akan menorehkan luka. Dari sampulnya saja novel ini sudah terlihat berat dan blurbnya termehek-mehek. Mungkin karena judulnya.

Saya sempat beberapa kali berusaha membaca novel ini. Dan nyatanya, baru bisa menamatkannya sekarang. Itu pun harus membaca dari awal. Ternyata dulu saya salah memahami jalan cerita.

Sepertinya cukup sejarah mengenai novel ini bagi saya. Langsung saja reviewnya.

Gelap. Gelap. Gelap.
Ceritanya gelap. Kertasnya pun gelap. 

* * *

Berlatar kota Odessa di Ukraina, novel ini menceritakan seorang mahasiswi asal Cina bernama Zhao Mei yang belum pernah jatuh cinta. Pertama kalinya di jatuh cinta adalah kepada Sun Jiayu, mantan kekasih sahabatnya, Peng Weiwei. Hubungan Sun Jiayu dan Peng Weiwei tidak berakhir baik. Weiwei bahkan mencoba membakar rumah Jiayu.

Mungkin Mei tidak akan jatuh cinta kepada Jiayu seandainya Jiayu tidak lebih dulu sering menemuinya. Pada akhirnya, cinta pertama Mei jatuh pada seorang penyelundup bernama Sun Jiayu.

"Jika kau bersedia mengikutiku, aku tidak akan menyia-nyiakanmu, tetapi aku harus mengatakan kepadamu bahwa aku tidak berencana menikah. Seumur hidupku tidak akan menikah. Jika kau merasa keliru, hubungan kita berakhir sampai di sini." Sun Jiayu to Zhao Mei

Mengetahui Sun Jiayu yang sebenarnya tidak mudah. Dia memiliki banyak musuh. Bisnisnya pun tidak selalu berjalan lancar karena ilegal. Puncaknya adalah ketika Sun Jiayu menjadi buronan kasus penculikan dan pembunuhan.

* * *
Untuk saya yang sering kebablasan menulis sinopsis, sinopsis ini bisa dibilang singkat, apalagi novel ini memiliki 500 halaman lebih. Sebetulnya masih ada cerita sampingan, seperti Peng Weiwei yang menjadi semacam perempuan gampangan dan tidak bisa move on dari Jiayu walaupun membencinya. Padahal, yang meminta putus adalah Weiwei.

Inti ceritanya, menurut saya, hanya seputar gadis polos yang jatuh cinta kepada seseorang yang rumit. Jalan cerita naik turun. Masalah datang pergi, tapi sebetulnya masalah itu bermuara ke satu tempat. 

Mei selalu disebut Gadis Bodoh. Saya akui dia memang polos dan emosianal. Mudah menangis dan sering berkata tanpa berpikir. Tapi, saya sendiri tidak tahu bagaimana kalau saya berada di posisi Mei. Saya tidak menjamin diri saya tetap berpikir sebelum bertindak.

Jiayu abu-abu. Mungkin banyak orang membencinya, tapi dia juga menyimpan kebaikan. Seperti kata Mei, orang-orang sebangsanya membencinya, tetapi orang-orang pribumi menyayanginya. Salah satu jenis kepribadian yang saya sukai dari tokoh novel.

Cara bicara Jiayu, kalau sedang tidak di bawah tekanan, mengingatkan saya pada tokoh drama Korea Full House, Lee Young-Jae, suka seenaknya. Apalagi dalam dubbing bahasa Indonesia, saya sering mendengar Lee Young-Jae mengucapkan "Kau dengar tidak?" seperti Jiayu. Jiayu juga kadang-kadang melembut. Hanya saja, saya tidak membayangkan dia seperti Rain karena Jiayu digambarkan sangat tampan dan Rain belum termasuk pada kata "sangat" menurut saya.

Novel ini mengaduk-aduk emosi. Kadang sebal dengan Mei yang terlalu polos. Kadang takut. Kadang terharu. Kadang senang.

Satu-satunya hal yang agak membuat bingung adalah tanda petik yang sering salah penempatan. Saya tidak memberi tanda karena tidak terlalu menganggu.

Menceritakan pebisnis yang tinggal di luar negeri, novel ini juga menceritakan hubungan persaudaraan (termasuk permusuhan) antara orang-orang Cina yang saling cari keuntungan.

Hubungan Mei dan Jiayu jelas rumit. Jiayu selalu menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Mei ingin selalu bersama Jiayu. Jiayu tidak ingin menyakiti Mei.

Berikut beberapa kutipan dari novel ini.
Perempuan bisa menilai laki-laki yang dicintainya. Kepintarannya akan pulih jika menghadapi orang yang berniat baik.
Lelaki seperti dia, tidak mungkin akan meninggalkan seluruh hutan rimba hanya demi sebtang pohon. Atau barangkali hanya perempuan yang berjiwa seperti laba-laba tarantula yang dapat menaklukannya sampai mati kutu.
"Gadis bodoh ... kau selalu saja menangis. Sudah berapa kali kuajari ... memangnya menangis bisa menyelesaikan masalah?" Sun Jiayu to Zhao Mei
"Seaktu aku seumsiamu, aku pernah melakukan hal-hal yang lebih bodoh dibandingkan ini. Tetapi Meimei, kau harus belajar untuk bisa menilai dan bertindak dewasa. Entah ayah ibumu atau orang lain, semuanya tidak akan bisa menjagamu seumur hidup. Cepat atau lambat, kau harus menghadapi semuanya sendirian. Jika bertemu seseorang, jangan gegabah berkata-kata dan jangan melepaskan kewaspadaan. Kata-kata ini harus kautorehkan dalam hati untuk mengingatkan diri sendiri." - Sun Jiayu to Zhao Mei
Aku tidak pernah tahu seperti apa masa lalunya dan tidak pernah bisa menggenggam masa depannya. Tetapi, pada saat ini, aku tahu dengan jelas dan pasti bahwa aku mencintai laki-laki ini. Tak peduli apa pun yang telah dilakukannya dulu.

Para pecinta "roman gelap" saya rasa tidak akan melewatkan novel ini. 
Saya bingung mau memberi berapa rating, antara 3 dan 4. Mungkin sepertinya 4 karena akan berbekas dalam waktu tidak termasuk singkat. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar