Selasa, 08 Juli 2014

Fantasy - Novellina A.




- Love That Much -

Judul buku: Fantasy
Penulis: Novellina A.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ke-1, April 2014
Jumlah halaman: 312
ISBN: 9786020303550

Ada dua jenis buku yang paling membuat saya kesulitan menulis review: buku yang terlalu membuat saya membuang waktu membacanya dan buku yang terlalu membuat saya terpukau. Let’s see buku ini termasuk yang mana.
* * *

Suatu hari di perpustakaan sekolah...

Cowok itu bernama Awang. Dia tiba-tiba saja meminta bantuan Davina (Vina) untuk mengenalkannya pada Armitha (Mitha), sahabat Vina. Awang tidak repot-repot menunggu persetujuan Vina. Mau tak mau, Vina memperkenalkan mereka berdua.

Piano menyadarkan Vina akan perasaannya terhadap Awang. Dia menyukai Awang. Namun, sebagai sahabat, justru hal itu membuatnya khawatir. Terlebih, kedekatan Awang dan Mitha membuatnya merasa disisihkan.

Saat kita menyukai seseorang yang lebih dulu menyukai kita, tetapi tiba-tiba saja orang itu berpaling, tentu rasanya tidak menyenangkan. Itulah yang dialami Mitha. Ketika dia mulai menyukai Awang, cowok itu justru berpaling kepada sahabatnya. Sebagai sahabat, Mitha merasa tetap bahagia untuk keduanya. Lagipula, tidak ada alasan baginya untuk tidak tetap bersahabat dengan Awang.

Mitha dan Awang mendaftar ke sebuah sekolah musik. Mitha, yang sebenarnya anak musisi, tidak pernah begitu tertarik dengan musik. Berkat Awang, dia menemukan passion­-nya terhadap piano. Di sisi lain, Awang menemukan keberanian menyentuh piano lagi berkat Vina. Awang berhasil mengalahkan ketakutannya.

Dari sekolah musik itu, Awang mendapatkan jalannya untuk semakin dekat meraih mimpinya. Awang ditawari beasiswa untuk bersekolah musik di Tokyo. Tapi, dengan menerima beasiswa itu, dia harus meninggalkan Vina, juga Mitha.

Karena tidak mau membebani Awang, Vina pun melepaskan Awang. Di sisi lain, Mitha-lah yang lebih merasa sedih atas kepergian Awang.


“Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita akan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn’t conquer all, faith does.” – Vina to Mitha


Tujuh tahun kemudian, Vina mengejar Awang ke Tokyo. Vina membawa mimpi Mitha untuk berkompetisi bersama Awang. Awang, yang saat itu sudah menjadi musisi kelas dunia, belum pernah mengikuti kompetisi apa pun demi janjinya dengan Mitha: berada dalam satu panggung kompetisi bersama gadis itu. Walaupun demikian, mengikuti kompetisi artinya mempertaruhkan karir Awang. Jika Awang kalah, dirinya akan diragukan. 

Kedatangan Vina ke Tokyo juga untuk membuktikan dirinya adalah seorang sahabat.

Ada satu hal penting yang benar-benar berubah setelah tujuh tahun: Vina dan Mitha sudah tidak bersahabat.

Mitha mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh. Hari-harinya hanya dihabiskan di kamar. Mitha tidak lagi mau bermain piano. Vina merasa bersalah dan Mitha pun menyalahkan Vina. Mitha tidak ingin melihat Vina lagi.

Awang membawa Mitha kembali ke dunia piano. Ketika Mitha kembali pada piano dan dapat mengikuti kompetisi, Mitha tahu Awang harus mempertaruhkan karirnya demi mengikuti kompetisi bersamanya.


You know some pianists are born just to be a performer, not a competition-conquerer. Sadly, in my opinion, Awang not that kind of conquerer.” Brian to Mitha


Selama tujuh tahun, ada satu hal yang tidak berubah: hati. Hati Vina dan Mitha tetap bertaut pada Awang. Dan Awang, kemudian menyadari tidak hanya Vina yang mengisi hatinya, melainkan Mitha juga.


Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya.

* * *

Kadang, kita tidak pernah mengira tindakan biasa yang kita lakukan pada suatu saat akan berdampak luar biasa, seperti hal yang dialami Awang. Meminta bantuan sahabat gadis yang disukai agar bisa dekat dengan gadis itu adalah hal biasa. Awang tidak pernah mengira sahabat gadis yang disukainya, Vina, akan mengubah arah kehidupannya dan kehidupan gadis yang disukainya, Mitha. Awang pun tidak pernah mengira pada akhirnya dia akan mencintai dua gadis yang bersahabat itu. 

Mengangkat tema persahabatan dan impian, novel ini memberikan cerita penuh pengorbanan dan perjuangan. Pengorbanan perasaan, perjuangan meraih mimpi, dan perjuangan mendapatkan kembali hal yang telah rusak. 

Dengan latar belakang musik klasik, novel ini memberikan nuansa melodramatis. Pembaca akan diajak mengenal musik klasik, tidak hanya judulnya, tapi juga interpretasi setiap komposisi. Melalui footnote, pembaca diberi penjelasan sejarah lagu-lagu yang disebutkan.

Saya menyukai musik klasik, tapi novel ini membuat saya merasa selama ini saya hanya mengetahui sebagian kecil dunia musik klasik. Judul-judul bab, termasuk prakata, menggunakan judul komposisi. Dari semua judul yang digunakan, hanya sebagian kecil yang saya sudah dengar.

Dari novel ini juga saya baru mengetahui pemain berbeda bisa memberikan sensasi berbeda terhadap pendengar, bukan hanya masalah ketepatan orang itu dan kepuasan pendengar. Seperti Awang, yang bagaimana pun lagunya, tidak akan menjadi lagu ceria. Mungkin hal ini saya alami sendiri. Saya baru mengetahui dari footnote bahwa Air on The G String adalah lagu romantis karena selama ini saya mendengar versi orkestra yang memilukan.

“Dengar, Sayang. Membaca partitur musik klasik, bukan hanya membaca apa yang tertera di sana, tapi kamu harus tahu apa yang dirasakan komposernya saat menulis komposisi itu, bagaimana keadaannya, membayangkannya kemudian menyampaikan kembali melalui musik yang kamu mainkan.” – Valenntina to Mitha

Pengetahuan pembaca mengenai musik klasik pun tidak akan hanya sebatas musiknya. Sejarah musik klasik hingga sejarah tempat-tempat yang berhubungan dengan musik itu pun dipaparkan novel ini. Saya merasa dibawa ke dunia yang sangat jauh, berpetualang bersama potongan kejadian yang dialami para tokoh.


Salzburg - source: Wikipedia, edited by me






Novel ini seperti puzzle, cerita diungkapkan melalui potongan-potongan kejadian penting yang pada akhirnya menyatukan kisah Davina, Armitha, dan Awang. Saya merasa ditarik ke dalam konflik psikis sambil bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, apa yang akan terjadi, apa yang seharusnya dilakukan tokoh itu, siapa yang benar, dan siapa yang salah.

Dengan sudut pandang orang pertama dari Davina dan Armitha, novel ini menyajikan cara pandang berbeda dari sepasang sahabat. Melalui kecelakaan yang dialaminya, penulis menjadikan Armitha sebagai tokoh pembenci sekaligus tampak tidak sepenuhnya salah. Penulis memberikan pandangan melalui seseorang yang merasa sakit karena tidak bisa meraih mimpi dan sulit menggapai orang yang dicintai. Melalui Davina, penulis memaparkan ketulusannya sebagai seorang sahabat yang harus selalu menutupi hatinya sendiri.

Tokoh yang paling berperan menaikturunkan emosi saya adalah Vina. Dialah seseorang yang membuka jalan mimpi bagi orang lain. Seseorang yang mengorbankan perasaannya agar orang yang disayanginya meraih mimpi. Seseorang yang mencari jalan agar sahabatnya dapat meraih mimpi walaupun sahabatnya itu membencinya. Sekaligus orang bodoh yang terlalu takut membalas kontak orang yang disayanginya dan tidak menyadari pengorbanan yang harus terjadi karena dirinya berlagak berhati besar.

Saya pikir, ketika seseorang hanya pernah mencintai satu orang dalam hidupnya, dalam kasus Davina adalah ibunya, orang itu akan memiliki perasaan yang besar untuk menjaga orang-orang lain yang bisa dia sayangi. Sekadar info, ayah Davina meninggalkan Davina dan ibunya ketika Davina masih kecil. 

Kalau ada hal di dunia yang mampu membuat saya - yang kata teman stidak punya perasaan - menangis dengan mudah, hal itu tidak akan pernah jauh dari cinta. Entah terharu karena cinta, sedih karena pengorbanan cinta, atau pun menangis bahagia. Entah itu cinta kepada keluarga, sahabat, atau pasangan. Kalau saya sedang tidak puasa, mungkin saya akan menangis berkali-kali. Perasaan cinta dalam novel ini sangat kental. Cinta kepada sahabat memiliki porsi besar walaupun cinta kepada kekasih pun luar biasa besar.

Dari novel ini, saya menemukan teori semacam ini:
X: Kalau aku menahannya, aku tidak akan tahan melihatnya bersedih karena tidak bisa meraih mimpi.
Y: Kalau aku bertahan di sisinya, aku tidak akan sanggup melihatnya bersedih karena perasaan bersalah telah menjauhkanku dari mimpiku.

"Because I love him so much and it hurts." - Vina to Mitha

Cinta yang begitu besar justru membuat mereka terpisah.
 
Saya tidak tahu novel ini debut atau bukan, tapi di akun Goodreads-nya, penulis baru menulis buku ini saja. Kalau novel ini memang debut, saya rasa kita memiliki satu lagi novelis baru yang langsung bisa merebut hati pembaca pada karya pertama.

Mungkin, satu-satunya hal yang agak menganggu saya dari novel ini adalah penggunaan bahasa asing. Banyak kalimat menggunakan bahasa asing dan itu tidak hanya bahasa Inggris. Sayangnya, tidak semua kalimat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Walaupun hanya beberapa kata dan cukup bisa dimengerti, mungkin akan ada pembaca yang ingin lebih jelas. Contohnya bahasa Jepang yang diucapkan Vina untuk memperkenalkan diri atau kalimat berbahasa Perancis yang digunakan sebagai pembuka surat Mitha.

Oh, ya, layout novel ini berbeda dari Metropop biasanya. Setiap awal bab, terdapat gambar piano. Walaupun gambarnya sama dari bab awal sampai akhir, menurut saya itu cute, mengurangi kejenuhan ketika membacanya. Untuk sampul, saya menyukai star dust, fairy dust, atau apa pun itu namanya. Tapi, karena sampul ini berwarna gelap, saya sarankan pastikan tangan tidak berminyak atau berkeringat ketika memegangnya karena akan bekasnya bisa terlihat kalau terkena cahaya yang cukup terang.

Sebagai penutup review ini, saya merekomendasikan novel ini kepada para penggemar romance dan drama. Karena cinta yang begitu kental - cinta Awang-Mitha, Awang-Vina, Vina-Mitha (sebagai sahabat), novel ini tidak boleh dilewatkan oleh penggemar romance. Dan novel ini juga bisa membuka pemikiran bagi yang sedang mencari arti ketulusan, persahabatan, cinta, kesetiaan, dan keyakinan.




Rating:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar