Senin, 14 Juli 2014

Before Happiness - Abbas Aditya



- Happily (N)Ever After -

Judul buku: Before Happiness
Penulis: Abbas Aditya
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Ke-1, Mei 2014
Jumlah halaman: 210
ISBN: 9797958418


"Menjadi dewasa itu sulit ya. Kadang gue gak ingin dewasa, gue masih ingin bermain kejar-kejaran tanpa lelah, bolos sekolah, mencuri mangga sama anak-anak. Gue ingin semua yang gue lakukan tak berdampak apapun. Namun nggak mungkin. Maka yang bisa gue lakukan hanya menjalani proses ini. Berusaha menjadi dewasa dan berdamai dengan keadaan." - Sadha to Happy

Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang selama ini tumbuh bersama?

Happy baru menyadari perasaannya terhadap sahabat kecilnya, Sadha, ketika Sadha meminta bantuannya untuk melamar Yuna, kekasih Sadha sekaligus sahabatnya. Selama ini, dia hanya mengira dia menyukai Sadha hanya sebatas "suka". Happy harus menelan kegetiran yang dibuatnya sendiri karena telah menjadi mak comblang kedua sahabatnya.

Untuk menyuseskan lamaran itu, Happy meminta bantuan Gerald sebagai pengiring. Gerald adalah sepupu Sadha. Dia junior Happy sewaktu kuliah. Happy sebenarnya belum bisa memaafkan Gerald karena telah mempermalukannya sebagai senior. Di sisi lain, Gerald menyukai Happy.

Belum cukup kesulitan Happy untuk mengikhlaskan sahabatnya, Yuna tahu-tahu menuding Happy memiliki hubungan lain dengan Sadha. Bukannya meminta maaf, Yuna justru tidak mau melihat Happy.

Happy artinya bahagia. Namun, lamaran itu sukses membuatnya jauh dari bahagia. Happy berusaha memungut keping-keping kenangannya bersama Sadha. Tidak selamanya Prince memilih Princess.

"Jatuh cinta itu perlu belajar, termasuk melupakan kenangan akan sakit yang ditmbulkan." - Gerald to Happy
* * *
Saya tidak memiliki sahabat cowok, tapi saya memercayai satu hal: tidak ada persahabatan cewek-cowok tanpa tumbuh perasaan lain. Setidaknya, selalu ada salah satu pihak yang memendam perasaan. Syukur-syukur kalau berbalas, kalau tidak, malah bisa merusak persahabatan. Keep smile saja kalau sudah begitu.

Entah sudah ada berapa banyak buku yang mengangkat tema ini: sahabat jadi cinta dan move on. Saya sudah siap-siap dibuat galau dan diselubungi aura suram. Nyatanya, iya sih galau, tapi tidak sesuram yang saya bayangkan.

Dalam buku ini, beberapa kali Happy menyebutkan kenangan-kenangan masa kecil mereka. Bukan hanya kenangan-kenangan manis mainstream, tapi juga kenangan-kenangan konyol. Kenangan-kenangan konyol itulah yang menurut saya normal. Kalau tidak konyol, rasanya kurang anak kecil. 

Karena terlalu banyak kenangan, saya sempat membayangkan kalau saya punya sahabat cowok dan jatuh cinta padanya. Mungkin entah kapan saya bisa move on. Masalahnya, menurut saya, orang yang bisa menjadi sahabat artinya orang yang cukup sempurna bagi kita kan? Satu lagi masalah ketika cewek bersahabat dengan cowok, kalau sudah memiliki pasangan hidup masing-masing, apakah masih bisa sedekat dulu? Bahkan, timpuk-timpukan pun nggak bisa lagi, apalagi untuk memanggil dengan panggilan sayang.

Saya suka panggilan Prince-Princess. Happy dan Sadha adalah korban film Cinderella sesungguhnya. Walaupun agak berlebihan, tapi saya pikir itu cukup cute ketika mempertahankan panggilan menggelikan semacam itu. Cowok kan biasanya malu kalau sadar mereka bukan lagi anak kecil.

Tokoh favorit saya kali ini adalah Gerald. Happy mengakui dirinya kekanak-kanakan, tapi dia juga mengakui Gerald lebih kekanak-kanakan. Tapi, kekanak-kanakan itu yang menjadikannya seru. Dia juga tipe orang yang menunjukkan peduli dengan caranya sendiri, yang kadang malah disalahartikan dan membuat kesal.

Novel ini juga memuat ilustrasi beberapa tempat. Karena memakai setting di tiga tempat: Jakarta, Malang, dan Thailand, masing-masing tempat diberi satu halaman untuk ilustrasi.
Ada tiga hal yang saya sayangkan dari buku ini:
  1. Sampulnya. Saya kurang menyukai gambar cewek itu. Happy memang melakukan perjalanan untuk move on, tapi gestur cewek di sampul terasa janggal. Kalau diperhatikan pun, cewek di sampul sepertinya bule dan rambutnya terlalu bagus untuk seorang Happy yang selalu mendeklarasikan rambutnya menyerupai ijuk.
  2. Desain halamannya gelap untuk ukuran novel yang ceritanya tidak terlalu suram.
  3. Typo dan beberapa kalimat rancu. 
"Aku tahu dia sangat urakan, hobi dan terkadang kekanak-kanakan." (halaman 86) Untungnya, paragraf selanjutnya menjelaskan hobi titik-titik itu.
"Dia satu-satunya orang yang tahu bahwa selama beberapa tahun ini perasaan gue." (halaman 84) Mungkin ini maksudnya "perasaan gue tetap sama"?

Untuk typo-nya, setidaknya gaya penulis yang sudah mengalir membuat saya agak kurang menghiraukan, tapi yaaah, memang cukup banyak. Tapi, ada satu yang membuat saya gatal kalau tidak saya katakan. Terdapat kata "bandara udara". Setahu saya, bandara itu singkatan dari bandar udara.


Oke, jadi, karena novel ini temanya "itu", yang suka dengan novel galau, jangan sampai ketinggalan. Saya bilang begini bukan karena dapat gratisan dari penerbit loh. :P

Rating:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar