Sabtu, 07 Juni 2014

Incognito - Windhy Puspitadewi



- Watch The Watch! -


Judul buku: Incognito 
Penulis: Windhy Puspitadewi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: ke-2, Mei 2014
Jumlah halaman: 208
ISBN: 9786020305233


Time Voyager karya Hans C. Zengraaf adalah buku favorit Sisca. Sisca tidak menyangka akan mengenal keturunan penulis tersebut. Perkenalan itu terjadi pada upacara penerimaan murid baru SMP. Erik, nama anak yang mengaku Hans C. Zengraaf adalah kakek buyutnya. Sayangnya, hubungan Sisca dan Erik tidak baik.

Seolah dipermainkan takdir, Sisca dan Erik selalu sekelas hingga SMA. Sekali lagi, takdir mempermainkan mereka. Sisca dan Erik dijadikan satu kelompok dalam tugas observasi Sejarah.

Di Gedung Marabunta, mereka dikejutkan sosok yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Dengan kemampuan bahasa Belanda yang nol besar, Erik berhasil mengerti perkataan sosok itu yang mengaku bernama Carl dan berasal dari masa lalu. 

Carl mengatakan dia diberi sebuah arloji oleh profesor aneh sebagai bentuk terima kasih karena Carl mau berteman dengannya. Arloji itu adalah sebuah mesin waktu. Cara menggunakannya cukup dengan memutar tahun yang ingin dituju dan menekan tombol pada bagian atas. 

Namun, arloji itu rusak ketika Carl melihat Borobudur dibangun. Carl tidak bisa mengatur tahun tujuan. Setiap pukul 12, siang atau malam, arloji itu akan membawanya berpindah, entah ke tahun berapa. Dan akhirnya arloji itu membawa Carl ke tahun 2009, bertemu Sisca dan Erik. Ketika tiba di tahun 2009, arloji itu berhenti berdetak sama sekali. Carl tidak tahu kapan dia dapat berpindah lagi. 

Sisca yang merasa kasihan ingin menolong Carl. Setidaknya, Sisca ingin memberi Carl makan dan minum. Ketika akan pergi, seorang anak menabrak Carl hingga arloji itu terjatuh. Kejadian itu membuat arloji kembali berdetak. Beberapa saat kemudian, arloji menunjukkan pukul 12. Carl akan segera berpindah. Erik berusaha menarik Sisca menjauhi Carl agar Sisca tidak ikut berpindah, tetapi terlambat. Erik dan Sisca justru muncul pada zaman sebelum masehi bersama Carl. Dan arloji itu kembali rusak.

* * *

Novel ini adalah novel fiksi ilmiah pertama berlatar Indonesia dengan tokoh utama Indonesia yang saya baca. Tidak sepenuhnya Indonesia, sih, karena ketika menjelajahi waktu, mereka berpindah dari satu negera ke negara lain tanpa bisa diprediksi. Perpindahan tempat yang terjadi suka-suka arloji tersebut membawa mereka ke mana.

Latar utama novel ini adalah Semarang. Mungkin latar ini dipilih karena penulis pernah tinggal di Semarang. Saya selalu menyukai latar non-Jakarta karena dengan begitu percakapan teman dan musuh tanpa "lo-gue" tidak terdengar kaku.

Saya belum pernah pergi ke Semarang, tetapi sepertinya keadaan di sana pada 2009 yang tidak seruwet Jakarta membuat seseorang yang datang dari tahun 1800-an tidak norak. Atau mungkin Carl pernah masuk ke masa lebih depan daripada 2009 jadi tidak norak? Mungkin. Tapi latar Kota Lama memang cocok untuk kehadiran tokoh berparas Belanda yang tiba-tiba muncul dengan cara misterius. Kalau munculnya di mall, mungkin jadinya kocak. :P

Gedung Marabunta


Saya bukan pembaca yang suka membaca prakata, kata pengantar, abstrak, atau sebagainya yang belum termasuk bab buku. Writer's Note novel ini yang bertabur nama-nama asing membuat saya tertarik membacanya. Untung saja saya membacanya kerana kalau tidak, mungkin saja sepanjang membaca novel ini saya akan sibuk mencari arti judul novel ini. Pada bagian Writer's Note, penulis mengungkapkan judul Incognito diambil dari terra incognita, yang berdasarkan Webster's Dictionary, artinya "unknown land", mengacu pada novel ini yang menceritakan ketiga tokohnya berpindah-pindah ke tempat dan waktu yang tidak diketahui (selain dari sejarah).

Novel ini bertabur pelajaran Sejarah. Saya tidak tahu riset semacam apa yang dilakukan penulis, tapi novel ini seperti memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan yang mungkin muncul ketika membaca biografi seorang tokoh. 

Penulis juga berhasil membaurkan sejarah sesungguhnya dengan cerita fiksi. Salah satunya cerita bahwa Musashi menghilang pada malam sebelum pertarungan legendarisnya. Penulis mengambil celah isu tersebut dengan menjadikan hilangnya Musashi sebenarnya adalah untuk mengantar Sisca, Erik, dan Carl ke tempat aman. 

Seperti halnya semua cerita mengenai perjalanan waktu, khususnya ke masa lalu, novel ini memberikan pesan untuk tidak mengubah masa lalu. Mereka harus berusaha tidak melakukan hal yang mungkin dapat mengubah masa depan. Bahkan, mereka harus rela membiarkan seorang tokoh penting dan telah menolong mereka terbunuh.

"Jika kamu harus mengubah sejarah hari ini, kamu akan mengubah sejarah hingga lebih dari dua ribu tahun ke depan. Kamu mau mempertanggungjawabkannya?" Erik to Sisca

Sayangnya, Carl yang sudah lebih berpengalaman menjelahi waktu justru mengubah masa lalu. Dia kesal mengenai suatu hal dan sebelum bisa dicegah, dia melakukan hal yang tidak seharusnya. Akibat perbuatannya, Carl nyaris membuat Erik menghilang dari dunia. Bagian tersebut adalah bukti bahwa melakukan perubahan yang mungkin tidak direncanakan ketika berkunjung ke masa lalu, bisa berdampak di masa depan.

Selama membaca novel ini, saya, yang kadang ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki sesuatu, memprediksi segala kemungkinan kalau saya benar-benar melakukannya.  Kejadian Erik nyaris menghilang membuat saya berpikir, kalau saya mengubah masa lalu saya, apakah akan ada yang hilang? Seperti kata Erik, mungkin saja saya mengubah masa depan hingga dua ribu tahun ke depan walaupun yang saya ubah kehidupan saya sendiri. Mari menikmati hidup yang ada! ^^

Omong-omong Erik, dia adalah tokoh favorit saya. Lagi-lagi tokoh cowok. Erik digambarkan mempunyai harga diri tinggi, senang dipuji, dan tidak mau diremehkan, tapi di sisi lain sebenarnya dia cukup perhatian walaupun dengan caranya yang kadang terlihat kasar. Dia juga bertanggung jawab dan sangat melindungi teman-temannya. 

"Seperti halnya manusia yang lain, Samurai punya rasa takut. Hanya saja samurai tidak akan membiarkan rasa takut itu mengendalikan mereka. Demi melindungi orang yang penting bagimu, kamu mengatasi rasa takutmu, itulah samurai sejati." Musashi to Erik

Mungkin Erik tokoh yang biasa ditemukan di komik, tapi saya tetap suka. Belum bosan dengan tipe seperti itu. :D
Sedangkan tokoh Carl kebalikan dari Erik. Dia terbuka dengan perasaannya dan jago gombal. Lalu, tokoh Sisca biasa ditemukan di mana saja. Dia cewek biasa. Punya perasaan dan tingkat kekhawatiran serta tingkat kepedulian yang sama seperti cewek pada umumnya.

Membaca novel ini membuat saya menyesal. Menyesal mengapa saya tidak tahu nenek saya bisa berbahasa Belanda ketika masih hidup. Saya baru mengetahuinya beberapa bulan setelah nenek meninggal. Mungkin kalau saya mengetahuinya, saya bisa sedikit belajar bahasa Belanda. Yaaah, tapi tidak boleh menyesal karena tidak boleh mengubah masa lalu.

"Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih kecewa atas hal-hal yang tidak kita lakukan daripada hal-hal yang kita lakukan." Sam to Erik, Sisca, Carl

Setidaknya, berkat novel ini saya bisa sedikit belajar bahasa. Dari Sisca yang bisa berbahasa Jepang. Dari Archimedes dengan bahasa Latin-nya.  Dan, terutama dari Carl yang berbahasa Belanda dan hanya sedikit bisa berbahasa Melayu karena pernah tinggal di Hindia Belanda. 

Kekurangan novel ini adalah . . .
Kurang tebal! Teenlit memang biasanya tidak terlalu tebal, tapi saya merasa novel ini terlalu tipis. Apalagi sepertinya seharusnya novel ini bisa lebih memacu adrenalin dan membuat otak berputar dengan penggalan-penggalannya. Tapi, kalau dipikir-pikir, kalau novel ini saja sudah menguras kantong dan tenaga mbak Windhy, apalagi kalau ceritanya lebih mendalam. ^^v

Selain itu, karena novel ini mengenai perjalanan waktu, mungkin perjalanannya bisa ke masa depan juga. Sepanjang cerita, para tokoh hanya "hinggap" di masa lalu, kecuali mungkin Carl karena baginya beberapa termasuk masa depan.

Kekurangan yang sering membuat saya gergetan, yaitu miss-spelling, sepertinya tidak ada. Kalau masalah ejaan dan semacamnya, sepertinya penerbit satu ini memang jagonya menghadirkan novel "bersih".

 Overall, novel ini recommended bagi penggemar Teenlit tentunya. Bagi penggemar fantasi atau sci-fi juga saya rasa harus mencoba. Bagi penggemar romance, novel ini juga memiliki unsur romance walaupun tipis. Ketipisan itu yang membuat romance dalam novel ini menggemaskan karena romance-nya agak terselubung.  >.<


"Lagi pula, cinta pertama sampai kapan pun akan menjadi cinta yang paling tak terlupakan, nggak heran Kakek Buyut Hans mempersembahkan bukunya untuk itu." Erik to Sisca

Rating:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar