Selasa, 24 Juni 2014

Dirty Little Secret - aliaZalea





- Who is The Hero? Who is The Villain? -

Judul buku: Dirty Little Secret
Penulis: aliaZalea
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: ke-1, Januari 2014
Jumlah halaman: 336
ISBN: 9786020301464


MEET THE HERO

Ben Barata. Sukses dengan kariernya dan berkehidupan mapan, tapi masih merasakan kekosongan dalam hidupnya. Dan dia yakin kekosongan itu hanya bisa diisi oleh Jana, cewek yang menghilang tanpa jejak setelah hatinya dia injak-injak bertahun-tahun yang lalu. Dia bertekad untuk bertekuk lutut meminta maaf dan mendapatkan kesempatan kedua dengan Jana... Namun, bagaimana dia bisa melakukannya tanpa membuat Jana mengambil langkah seribu ketika melihatnya?

MEET THE HEROINE

Jana Oetomo. Ibu dari sepasang anak kembar yang bandelnya setengah mati dengan sebuah rahasia yang memberikan definisi baru pada ungkapan “skeletons in the closet”. Namun sepertinya rahasia itu tidak bisa tetap terkubur, terutama ketika Ben, orang terakhir yang dia inginkan mengetahui rahasia itu, tiba-tiba muncul kembali dalam kehidupannya. Dan dia lebih baik mati daripada membiarkan Ben dekat-dekat dengannya lagi.

* * *
Well, ummm... Saya kesulitan membuat sinopsis versi saya dengan gaya yang tidak seperti sedang dikejar-kejar penjahat.
Jadi begini:

Ben mengambil cuti dari tempat bekerjanya di Chicago untuk kembali ke Indonesia. Dia kembali bukan hanya untuk liburan, tapi juga mencari Jana. Jana adalah kekasihnya delapan tahun lalu yang menghilang (atau menghilangkan diri). Jana menolak bertemu Ben setelah perlakuan Ben yang tidak berperikemanusiaan dengan menyuruhnya menggugurkan kandungannya, yang adalah sumbangan gen dari Ben. 
Cara mencari Ben memang tidak seperti mencari orang hilang dengan membuat brosur, lapor polisi, atau sebagainya. Ben mencari ke orang-yang-mengenal-orang-yang-mengenal-kenalan-Jana.  Tapi, ternyata mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah pesta. 
Akhirnya Ben terus mengejar Jana. Bagi Jana, itu lebih seperti teror. Semanis-manisnya ajakan Ben, tetap mengerikan bagi Jana. Sampai suatu hari, Ben memaksa bertemu Jana di kantor. Daaan, di sanalah mereka kepergok oleh anak-anak Jana, Raka dan Erga. Sekali melihat saja, Ben tahu mereka adalah anaknya. Jadi, selama ini Jana sudah berbohong telah menggugurkan kandungannya. Dan tiba-tiba saja Ben menyandang status "Ayah", bukan hanya dari satu, tapi dua, sepasang anak kembar!
Dari situlah Ben semakin gencar mendekati bukan hanya Jana, tapi Erga dan Raka. Yaah, medekati Erga dan Raka sih tidak sulit. Tapi, walaupun mereka sering bermain dengan Ben, mereka tidak tahu Ben adalah ayah mereka.

Begitulah.

Perasaan saya dibuat jungkir balik membaca novel ini. Kesal pada Ben. Kasihan pada Jana. Kesal pada Jana. Kasihan pada Ben. Terharu pada Ben. Sedih pada Jana. Semua campur aduk. 

Satu hal yang pasti, novel ini mengajarkan kaum perempuan satu hal: hati-hati terhadap laki-laki! Hehehe. Jana yang sebegitu mengira Ben adalah segalanya saja disuruh menggugurkan kandungan. Lalu, ketika Ben kembali, bukannya untung, malah takut. Salah satu ketakutannya adalah Ben akan meninggalkannya lagi atau mengambil Erga dan Raka darinya.

See? "Ben" sama dengan "Superman". "Bunda" sama dengan "nggak penting kalau ada Oom Ben.

Tapi, great job untuk Ben! Ben mengingatkan saya pada Maleficent dalam film Maleficent. Karena mungkin ada yang belum menonton film itu, saya tidak akan membocorkan maksud saya.

Novel ini adalah novel terakhir dari seri Adri dkk, tapi saya baru membaca dua novel. T.T 
Setelah membaca Crash Into You, semula saya agak takut membaca yang lainnya walaupun saya akui saya menyukai jalan ceritanya. Saya sampai berpikir untuk memilah-milah Metropop yang akan saya baca sampai waktu yang tepat. Tapi, karena saya tau tema novel ini adalah keluarga, saya penasaran. Untung untung untungnya, adegan-adegan "aneh" di novel ini lebih sedikit.

Bagian favorit saya adalah setiap bagian yang memuat adegan Ben bersama Erga dan Raka. Cantik. Manis. >.< Bagaimana bisa laki-laki yang semula sudah memplotkan masa depannya tiba-tiba menjadi family man? Dia bahkan bisa menghadapi kebandelan anak-anaknya (yang diturunkan darinya) tanpa sekali pun kehilangan kesabaran. How cute!

"Absolutely. Erga dan Raka bukan cuma anak-anak kamu, mereka juga anak-anakku. Kerjaan akan selalu bisa dicari di Jakarta, tapi aku nggak mau lagi ketinggalan kesempatan menjadi bagian kehidupan Erga dan Raka." - Ben to Jana

Ke-cute-an lainnya adalah ketika Erga dan Raka melindungi satu sama lain. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. 

Ketika Jana tanya kenapa dia ngegebukin temannya, Raka hanya menjawab, "Abis Mark bilang Erga banci, soalnya Erga nggak mau bales pukulannya. Banci itu bad word kan, Bunda? Mark nggak mau boleh kan pake kata itu?"

Erga dan Raka juga memberi bumbu, bukan hanya gula, tapi juga garam dengan kepolosan mereka. 

"Ayo, Bunda ke dapur sekarang. Oom Ben lagi bikinin apa makanan yang Oom Ben lagi bikin, Erga?"
"Oh Melet," jawab Erga.

Erga dan Raka adalah sebentuk bukti bahwa masih ada anak-anak polos pada usia tujuh tahun di bumi ini. Mereka juga tidak diperkenalkan pada video game. Balita sekarang saja sudah mainannya sudah berupa talenan yang bisa menghasilkan gambar bergerak dan suara-suara.

Selain interaksi orangtua-anak Ben dan Jana dengan anak-anak mereka, interaksi orangtua-anak juga ada pada Ben dan Jana dengan orangtua masing-masing. Orangtua Ben sih biasa saja (walau sedikit lebay ketika mengetahui Ben mempunyai anak-anak). Interaksi Jana dengan orangtuanya yang menurut Ben (dan saya) tidak sehat. Papi Jana diktator sejati dan maminya tidak berbeda jauh.

Ada satu hal yang saya tidak mengerti dari novel ini: ilustrasi sampul. Kenapa gambar kaos kakinya belang? Satu-satunya adegan mengenai kaos kaki adalah ketika Raka dan Erga nyaris terlambat ke sekolah dan Raka masih mencari kaos kaki. Di sana disebutkan kaos kaki mereka berwarna putih. Anyway, adegan itu masih adegan perkenalan dan sudah terlihat tanda-tanda bagaimana seorang single mom menghadapi dua monster kecil sekaligus.

Saya rasa novel ini memberikan pelajaran mengenai keluarga, keterbukaan dalam keluarga, dan hal-hal yang perlu dipikirkan ketika memutuskan menjadi orangtua. 

Saya beri 4 Happy untuk novel ini.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar