Kamis, 26 Juni 2014

Crying 100 Times - Nakamura Kou


Untuk baca dan posting bareng BBI bulan ini, buku-buku yang saya baca semua hadiah giveaway. Padahal giveaway-nya sudah dari entah kapan, tapi saya endapkan untuk event ini.
Buku untuk tema Sastra Asia disponsori oleh Mbak Esti Sulistyawan dari Lentera Dunia. Makasih, Mbak. ^^



- The Line -


Judul buku: Crying 100 Times
Penulis: Nakamura Kou
Penerjemah: Khairun Nisak
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: ke-1, Juni 2013
Jumlah halaman: 256
ISBN: 9786027742192


To love, to honor. To cherish, to help. Until death do us apart.

Waktu itu,
kami sedang memperbaiki
sepeda motor tuaku.

Waktu itu,
ia memintaku untuk menjenguk Book,
anjing tua kesayanganku yang sekarat.

Dari dulu,
Book sangat menyukai
suara mesin motorku.

Waktu itu,
Aku melamarnya.

Waktu itu,
aku merasa aku adalah
pria paling bahagia di dunia.

Aku kira,
kebahagiaan ini
tidak akan berakhir.

Tapi...
* * *


Cerita dibuka dengan telepon dari ibu Fujii yang mengabarkan bahwa Book, anjing mereka sakit. Yoshimi, kekasih Fujii, mengatakan sebaiknya Fujii menjenguk Book dengan motornya karena Book menyukai motor itu. Motor yang bertahun-tahun tidak pernah digunakan itu pun diperbaiki. Yoshimi membantu Fujii memperbaiki motor itu. Lalu, terucaplah lamaran Fuji untuk Yoshimi. Memang bukan lamaran romantis, bahkan jauh dari romantis, hanya berupa ajakan dengan sorot lampu senter ketika memperbaiki motor, tetapi Yoshimi meng-iya-kan.

Fujii dan Yoshimi melakukan latihan pernikahan, semacam percobaan hidup bersama supaya setelah menikah lebih mudah beradaptasi. Ketika latihan itu, Yoshimi jatuh sakit. Semula mereka berpikir hanya flu biasa karena Yoshimi mengatakan ia sering sakit seperti itu lalu sembuh dalam hitungan hari, tapi Yoshimi tidak kunjung sembuh. Yoshimi memutuskan pulang ke rumah orangtuanya.

Di tempat asalnya, Yoshimi memeriksakan diri ke rumah sakit. Yoshimi diminta melakukan berbagai tes. Setelah serangkaian pemeriksaan, Yoshimi dinyatakan menderita kanker indung telur. 

Fujii tetap mendampingi Yoshimi walaupun harus berbagi waktu dengan pekerjaannya, terlebih rumah sakit tempat Yoshimi dirawat cukup jauh. Walaupun kantor Fujii dan rumah sakit tempat Yoshimi dirawat masih sama-sama di Tokyo, jarak dua tempat itu tidak bisa dibilang dekat. Fujii harus menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan dalam seminggu menjadi hitungan hari agar pada hari-hari tertentu dia bisa menemani Yoshimi.

Menjelang peringatan lamaran Fujii kepada Yoshimi, Fujii menawarkan Yoshimi sebuah hadiah. Yoshimi menginginkan jimat pelindung berupa sebuah kotak.

"Sebuah kotak yang pasti tidak bisa dikeluarkan isinya. Di dalamnya tidak dimasukkan apa pun, tapi pasti, pasti, dan pasti tidak akan terbuka." Yoshimi to Fujii

* * *

Mungkin kalau tidak kenal film Jepang, saya akan kurang menikmati novel ini. Khas seperti film Jepang, ceritanya tidak bikin deg-degan, tapi membuat perasaan membuncah. Karena sebagian besar film Jepang memang begitu, saya tidak berharap juga novelnya tidak seperti itu. Mungkin saking sibuk dan dinamisnya mereka, mereka jadi suka menyalurkan hal-hal sweet lewat novel, dari awal sampai akhir tidak ada yang tidak manis. Siapa sih yang nggak mau punya pasangan kayak Fujii.

Saya sangat menyayangkan novel ini kurang menguras emosi padahal judulnya Crying 100 Times. Saya sudah membayangkan akan menangis 100 kali ketika membaca novel ini, tapi ternyata tidak sebanyak itu. Walaupun demikian, sudut pandang orang pertama yang digunakan pada novel ini cukup menggambarkan kegundahan dan kekesalan Fujii ketika tidak bisa selalu menemani Yoshimi karena kehidupannya tidak hanya berpusar pada Yoshimi.

Yang membuat novel ini semakin melow adalah nama tokoh hanya diketahui melalui percakapan, itu pun tidak sejak awal. Saya bahkan tidak mengetahui nama depan Fujii kalau tidak membaca sinopsis filmnya. Dalam narasi novel, Fujii pun menyebut Yoshimi dengan "pacarku", "dia", atau "gadis itu". Saya merasa penyebutan nama secara langsung pada narasi menghasilkan efek terlalu terbuka.

Yang saya suka adalah bagaimana penulis mengait-ngaitkan setiap bagian membentuk garis kehidupan Fujii.

Garis kehidupan Fujii mungkin seperti ini:
Gagal masuk universitas - menemukan Book di depan perpustakaan ketika selesai belajar untuk persiapan ujian tahun berikutnya - masuk universitas - bekerja - bertemu Yoshimi - Book sakit - memperbaiki motor - melamar - menjenguk Book - melakukan latihan pernikahan - Yoshimi sakit - entah apalagi

Kalau ada satu saja bagian yang hilang, mungkin kehidupan Fujii tidak akan seperti itu. Misalnya, dia lulus universitas di tahun pertama, mungkin dia tidak akan mengenal Yoshimi. Kalau Book tidak sakit, mungkin mereka tidak akan memperbaiki motor dan Fujii tidak akan melakukan lamaran spontan sehingga Yoshimi pun tidak spontan menjawab iya.

Hal yang agak mengganjal dari novel ini adalah terjemahannya. Saya merasa terjemahannya kaku. Saya pernah menonton film/sinetron Indonesia yang ceritanya menampilkan orang Jepang yang bisa berbahasa Indonesia. Kata-katanya memang seperti itu, tapi karena sekarang saya lebih sering menonton film Jepang dengan terjemahan bahasa Inggris, saya kira kalimatnya bisa tidak seperti itu. Sedikit diluweskan.

Novel ini sudah difilmkan dengan judul 100 Kai Naku Koto. Suichi Fujii diperankan oleh Tadayoshi Okura dan Yoshimi Sawamura diperankan oleh Mirei Kiritani. Film ini sudah rilis pada 22 Juni 2013.

Saya belum menonton 100 Kai Naku Koto, tapi saya berharap film ini mampu membuat saya termehek-mehek seperti film Jepang lain. Kalau film ini mempertunjukkan Fujii yang berusaha selalu bisa menemani dan menyupport Yoshimi, saya rasa film ini bisa membuat saya tersentuh.

Dari sinopsis yang saya baca, sepertinya film ini mempunyai alur yang lebih kompleks daripada novel. Berikut sinopsisnya:

Shuichi (Tadayoshi Okura) had a motorcycle accident 4 years ago. Because of the accident, he lost the last year of his memory. One day, at a friend's wedding, Shuichi has a fateful meeting with Yoshimi (Mirei Kiritani). They enjoy happy times together and Shuichi thinks about marrying Yoshimi. Then Yoshimi becomes sick. A sad truth is hidden in the lost memory of Shuichi.

Dalam novel, tidak disebutkan Fujii mengalami kecelakaan motor dan kehilangan ingatan. Fujii, ya Fujii, pria biasa dengan pekerjaan biasa dan kehidupan biasa sampai mendapati pacarnya sakit. Kalimat terakhir sinopsis itu yang membuat saya ingin segera menonton film itu begitu keluar terjemahannya padahal saya biasanya menghindari cerita yang berhubungan dengan hilang ingatan atau gangguan otak semacamnya sejak menonton Butterfly Effect. Film itu sukses membuat saya merinding dan pusing dalam waktu lama.

Ini adalah trailer 100 Kai Naku Koto:



3 love untuk novel ini





Picture: 2saigon

2 komentar:

  1. Anjingnya dinamain "book"? Hehehe lucu juga ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, karena ditemukan di perpustakaan. ^^

      Hapus