Rabu, 28 Mei 2014

Tokyo: Falling - Sefryana Khairil




 - Kejatuhan Takdir -


Judul buku: Tokyo: Falling
Penulis: Sefryana Khairil
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: ke-2, 2013
Jumlah halaman: 338
ISBN: 9797806634
Pikirannya masih merasa lucu dengan situasi yang terjadi di dalam hidupnya dan Tora; dua orang yang bertemu karena lensa, ternyata mempunyai masalah sama, seseorang dari masa lalu. 
Kebetulan Thalia dan Tora mendapat tugas liputan di Tokyo. Kebetulan mereka berada di tempat dan waktu yang sama. Kebetulan mereka bertabrakan. Kebetulan lensa Thalia retak. Kebetulan lensa serupa tidak ditemukan.

Pertemuan tak disengaja Thalia dan Tora membawa mereka menghabiskan hari-hari di Tokyo bersama. Thalia, yang meminta ganti lensa serupa, tidak mendapatkannya. Thalia dan Tora sudah mencari ke berbagai tempat, tetapi lensa itu tidak ada. Akhirnya, Tora pun memberikan solusi mereka menggunakan lensa Tora bergantian.

Hubungan Thalia dan Tora awalnya hanya seperti dua orang asing yang terpaksa terjebak bersama. Lama-kelamaan mereka semakin akrab dan membuka kisah masing-masing, sampai menjurus pada kisah yang paling pribadi.

Thalia mengira liputannya di Tokyo adalah jalan baginya untuk semakin dekat kepada Dean, mantan kekasihnya. Terlebih, Dean pun mengajak Thalia bertemu, seolah memberikan harapan. Tapi, pertemuan itu hanya sekilas. Angan-angan Thalia tentang Dean akan menemaninya di Tokyo tidak menjadi kenyataan. Dean terlalu sibuk, sampai sekadar membalas pesan atau menelpon pun sulit. Setidaknya, bagi Thalia, Dean masih mempunyai sedikit perhatian dengan  mengiriminya berbagai hadiah.
"Menurut kamu, ada nggak orang yang mau menunggu seumur hidup seperti Hachiko?" - Thalia to Tora

"Tapi, sebaiknya, kita jangan terlalu banyak berharap sama orang. Kalau harapan kita nggak terwujud sesuai dengan yang kita inginkan, pasti sakit rasanya." Tora to Thalia

Tora sudah berencana menemui Hana, mantan kekasihnya yang tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak. Tora ingin mendapat penjelasan Hana. Sayangnya, yang didapat Tora justru kenyataan yang lebih pahit, bahwa Hana mantap akan menikah dengan pria lain.

Tidak ada cinta yang dapat tumbuh dalam waktu sepuluh hari. Itulah yang dipercaya keduanya. Mereka mengira mereka hanya terbawa suasana. Mereka tidak boleh berharap.

Ketika Thalia mengira Dean tidak akan menepati janjinya lagi, Dean justru datang. Tora yakin itu saatnya dia pergi.

"Thal, love is a beautiful thing when you find the right person. Your love is the grand prize, so you have to wait for a man who is worthy." Silvia to Thalia
Perempuan ini bukan bidadari, hanya seorang biasa, tetapi sungguh istimewa. - Tora

* * *

Kesan terakhir ketika menutup buku ini adalah serupa tapi tak sama dengan salah satu buku dari penerbit yang sama. Buku itu juga bertemu traveling. Bedanya. . . bedanya banyak sih. Cara mereka bertemu, sifat tokoh, setting, gaya penulis. . . Mungkin persamaannya adalah sama-sama tokoh utama saling tertarik dalam waktu singkat, sama-sama menampik dalam hati, sama-sama tokoh cowoknya akan ditinggal nikah.

Tapi, seperti kata seseorang, saya lupa siapa. Suatu cerita tidak harus orisinil. Yaaa, saya nggak tau penulis terinsiprasi novel itu atau bukan sih, hati aja bisa terpaut, otak manusia juga bisa terpaut pada ide yang sama. Tapi, yang penting bukan orisinilnya, melainkan bagaimana penulis mengolah cerita. Saya bahkan ingat orang itu bilang Shakespeare menari-nari di kuburannya kalau melihat salah satu novel yang sudah difilmkan karena idenya serupa tapi tak sama dengan Romea Juliet.

Kembali ke Tokyo
Novel ini sudah lama ada dalam daftar saya. Alasannya apalagi kalau bukan karena setting tempatnya.

Untungnya, sekaligus sedihnya, novel ini menyajikan sangat banyak lokasi berbeda di Tokyo, makanan-makanan, dan budayanya. Sedih tentu saja karena saya baru bisa membaca, belum merasakan langsung. 

Saya makin menggigit bibir karena sebagian besar berlatar di Odaiba, pulau buatan di Tokyo. Banyak yang bisa dituju di sana: Rainbow Bridge, patung Gundam, Daikanransha (bianglala ke-2 tertinggi di dunia), Tokyo Big Sight, replika Liberty, dll.



Untung mereka tidak ke Shibuya 109 yang sering ada di komik-komik.
 

Makanan yang disebutkan juga cukup banyak. Makanan yang paling saya inginkan adalah taiyaki, atau saya menyebutnya kue ikan. 


Sebetulnya saya pernah melihat taiyaki di salah satu festival, tapi karena perut saya masih penuh, jadi masih saya tahan.

Sudah, sudah, jangan membahas yang seperti itu terus. Tidak akan ada habisnya. Mari, lanjutkan mengenai kisah Thalia dan Tora.

Ummm... Selama membaca novel ini, ada satu hal yang menjadi pikiran saya: cowok sekarang memang begitu, ya? Maksud saya, sikap Tora kepada Thalia. Mereka kan baru bertemu, tapi Tora sudah hobi mencubit Thalia. Skinship mereka juga terlalu sering, seringnya Tora duluan. Saya ini memang anak muda yang konservatif untuk masalah seperti itu. 

Sepertinya salah satu ciri khas GagasMedia adalah menerbitkan novel dengan pesan yang jelas. Pesan yang saya tangkap adalah masa depan bukan hanya masalah kemapanan. Hehehe. Siapa sih cewek yang nggak mau punya cowok mapan, bisa beliin Jimmy Choo setiap hari, kalau perlu Prada. Pesan lainnya adalah: Action!

"Kalau lo tetep kayak sekarang, terus nantinya lo sadar, lo udah buang-buang waktu, nyesel seumur hidup!" - Alvin to Tora

Tora itu keras kepala, dia juga takut berkomitmen, makanya ditinggal Hana. Hana pinter sih, nggak mau nunggu yang nggak pasti.

Tapi, walau keras kepala, sebetulnya Tora juga cuek-cuek perhatian. Waktu Tora nyingkirin sayur dari piring Thalia tanpa diminta namanya apa kalau bukan perhatian? Padahal mereka baru kenal.

Di bagian akhir, saya masih dibawa muter-muter antara Tora dan Thalia. Walaupun sudah bisa ditebak bagaimana akhirnya, kalau sampai akhir masih berkutat dengan kehidupan kacau masing-masing dengan prasangka buruk masing-masing dan tanpa usaha menghubungi, tetap saja rasanya saya ingin menjadi penghubung. Hehe.

Sepertinya saya terlalu banyak omong. Langsung rating saja deh:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar