Minggu, 06 April 2014

Restart - Nina Ardianti



 - Don't Think Too Much -

Judul buku: Restart
Penulis: Nina Ardianti
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: ke-1, 2013
Jumlah halaman: 446
ISBN: 9797806316

"Ada hal-hal dalam hidup lo yang lo tahu itu adalah sebuah kesalahan tapi lo nggak akan benar-benar tahu bahwa itu adalah kesalahan. Karena satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa hal tersebut merupakan kesalahan adalah dengan membuat kesalahan itu terjadi." Aulia to Syiana.

Mengikuti training di Hong Kong sebenarnya adalah pelarian Syiana karena patah hati. Sayangnya, di HK pun dia tetap bertemu Yudha, mantan pacarnya. Syiana pun menghindar dan "terdampar" di sebuah beer garden. Belum cukup kesialannya, seorang cowok mabuk memuntahi sepatunya dan temannya yang tiba-tiba datang menuduhnya membawa temannya itu mabuk-mabukan. 

Ketika kembali ke Jakarta, Syiana mendapat kabar bahwa brand ambassador My Hobbies Card edisi Music yang ditanganinya diubah menjadi Dejavu, band yang katanya sedang naik daun tetapi Syiana tidak mengenal band itu.

Ketika acara Rise and Shine, semacam acara Gebyar B*A, yang diadakan oleh bank tempat Syiana bekerja berlangsung, Syiana yang kaeluar karena bosan bertemu dengan dua orang asing di HK itu lagi. Ternyata, mereka adalah personel Dejavu yang akan manggung malam itu. Cowok pemuntah adalah Riza, vokalis, dan si penuduh adalah Fedrian, gitaris.

Setelah pertemuan itu, Fedrian meng-invite BBM Syiana. Dia juga mengajak Syiana makan siang tanpa membuat janji lebih dulu. Syiana yang awalnya tidak menyukai Fedrian, akhirnya luluh.

Semua hubungan memiliki masalah. Masalah yang harus dihadapi Syiana dan Fedrian adalah Syiana yang terlalu takut keluar dari dunianya yang sudah tersusun rapi. 

"When it comes to love, only women think about love. Men just love, they don't think." - Edyta to Syiana.

* * *

Harusnya saya nggak baca buku ini pas UTS. Ketebelan jadi berasa dikejar-kejar apa gitu. Kalau bacanya berlama-lama, nanti makan waktu belajar. :P Ditambah mental saya lagi agak keganggu, harusnya saya baca novel thriller, fantasi, atau jenis apa pun yang betul-betul fiktif. Tapi, nggak nyesel-nyesel banget kok baca novel ini. Bikin saya harus makin sering ngaca.

 Sekadar info nggak penting alasan saya memilih novel ini. Waktu lagi merhatiin satu-satu novel di perpus kota, nemu lah novel ini. Sebetulnya ada 4 novel lain (salah satunya fantasi) yang jadi kandidat untuk saya pinjam. Tapi, saya Googling dulu mana yang paling bagus. Berhubung novel ini dapat rating paling tinggi di GR, jadilah saya cari review di blog lain. Jadi bisa kan buku ini masuk Blame It on Blogger di RC Lucky no. 14? Hhe. Saya langsung percaya buku ini bagus karena baca review dari sumber yang percaya belum pernah menyesatkan: fiksimetropop (ini blog dari akun twitter @fiksimetropop itu kan?).

Kenyataannya, saya sempat kesel karena lama banget baru sampe konflik. Halaman seratus lebih dan saya masih mikir mau dibawa ke mana cerita ini. Setelah saya pikir-pikir, ini sih otak saya aja lelet memprosesnya. Masalah udah ada tapi sayanya yang ngarep adegan thriller *salah novel*. 

Masalahnya ya itu. Syiana yang takut menjalani hubungan baru dan takut keluar dari zona nyaman. Dia hidupnya terkonsep, terus harus menjalani hubungan dengan anak band yang masa depannya bisa tiba-tiba suram kapan pun. Syiana nggak mau masa depannya hancur gara-gara itu. Belum lagi dia mikir kalau orang biasa aja bisa selingkuh, apalagi artis yang banyak ketemu perempuan lain.

Ceritanya ngalir banget (saking ngalirnya saya pura-pura nggak peduli ada banyak typo). Dari pertemuan pertama mereka yang nggak sengaja di Hong Kong, Fedrian yang tiba-tiba nge-add BBM Syiana dan ngajak makan siang, ternyata Dejavu jadi pilihan brand ambassador proyek yang dipegang Syiana, sampe terus mereka makin deket karena usaha Fedrian juga sih. Cewek lain aja rela ngelempar dirinya ke Fedrian, masa Syiana yang sampe digituin nggak.

Walaupun temanya move on, jangan berharap nemu yang galau-galau di novel ini. Bagian yang menceritakan Yudha cuma sedikit. Menurut saya, galaunya justru di bagian akhir. Beneran langkah move on dengan mendapatkan yang baru.

Yang paling saya suka adalah bagian yang menceritakan keluarga Edyta. Jarang-jarang loh ada novel yang nampilin keluarga sahabat sedalem ini.

Ada satu bagian yang menceritakan Syiana dan Edyta setelah acara Rise and Shine yang membuat saya bingung. Ini ceritanya hari apa? Halaman 85 menyebutkan Sabtu pagi, halaman 88 menyebutkan Minggu siang, dan halam 93 menyebutkan malam minggu. Masalah pagi-siang-sore-malam nggak masalah karena kejadiannya nggak di satu waktu itu, tapi setau saya itu masih satu hari. Mungkin otak saya yang lagi error karena masih UTS. Toh, hanya mengganggu beberapa lembar  dari empat ratus halaman lebih yang saya baca.

Tokoh Fedrian di sini disebut-sebut kece banget, tapi saya nggak terlalu nangkep. Mungkin karena saya masih kepengaruh kekecean tokoh dari 2 novel lain yang bisa dibilang belum terlalu lama saya baca. Tapi, karena baru-baru ini saya nonton drama Korea The Heirs, saya jadi membandingkan Fedrian dengan Kim Tan. Nggak beda jauhlah dalam masalah cinta yang sama-sama ngenes. Sama-sama sayang banget, sama-sama punya pacar yang takut terhadap sesuatu. Bedanya sih halangan Ian justru logika cewek itu sendiri, bukan orangtuanya.

Teruuuss, Syiana... Ya ampun, saya mau komen tapi mesti ngaca dulu. Kok ada sih orang sesarkatis itu? Saya kan jadi mikir tingkat sarkatis saya separah itu nggak. *oke, abaikan* Tapi, sikap Syiana yang kayak gitu dan Fedrian yang samanya justru bikin lucu.

Tokoh favorit saya di novel ini justru Aulia, tetangga kubikel Syiana. Tu cowok sahabat-able banget. Agak suka gosip, tapi pengertian dan baik banget.

Lompat ke akhir cerita, ini girl power banget. Cewek yang berjuang duluan. I like it. Kalau nggak ada yang bergerak duluan, nggak akan selesai. Toh, Ian bilang dia udah nyerah. *ups, spoiler?*

Pesan dari novel ini adalah kualifikasi boleh banyak, tapi kalau udah ada yang ngena, kenapa nggak? Walaupun hidup terkonsep, harus tetap fleksibel karena gempa bisa datang kapan pun. 

"Jangan sampai kalian menyesal nggak mengambil kesempatan itu hanya karena ragu-ragu atau takut menghadapi masa depan. Masalah, apa pun bentuknya, adalah bagian dari kita menjalani hidup. . . Dan itulah gunanya pasangan hidup, untuk mengatasi masalah bersama-sama. Kalau kalian nggak membagi bebannya kepada pasangan kalian, you don't give the person who loves you enough chance to love you enough." - Papi Edyta.
 Iya, kan? Masalah lebih baik dibicarakan bersama. Saling berpendapat sampai menemukan titik temu. 

Anyway, di GR dan fiksimetropop, novel ini dapat rating tinggi. Tapi, mungkin karena saya bacanya sambil mikirin macem-macem, saya ngerasa nggak bisa ngasih rating tinggi. Mungkin masalah selera. Mungkin seharusnya saya nggak mendekati romance dulu selagi kena sindrom mental breakdown. Kenapa ini malah curcol?

Rating:



3 komentar:

  1. aku belum punya ini. pengen baca :3

    BalasHapus
  2. wah keren novel ini masuk nominasi metropop, kayaknya baru kali ini aku baca metropop melalui reviewnya mbak ini

    meskipun panjang dan aku ga sanggup baca,
    maaf
    jadi baca sekilas saja

    mbak pecinta novel sepertinya, reviewnya sejibun
    tapi kerenlah

    suka drama Korea juga ya mbak? aku suka dikit siii


    iya jangan pernah ragu
    iya harus fleksibel karena konsep bisa berantakan karena ga semua bisa sesuai keinginan kita
    huum masalah harus dibicarakan dan diselesaikan bersama supaya ringan dan cepat selesai

    mohon maaf bila kurang berkenan
    salam dari
    @guru5seni8
    kalau berkenan, mohon main ke http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin waktu buat review ini aku lagi semangat makanya panjang, tapi makasih udah baca.
      reviewku belum seberapa, masih banyak yang lebih bejibun.
      aku juga pilih-pilih sih kalau nonton drama korea, nggak semua aku suka. hhe.
      mari blogwalking. :)

      Hapus