Sabtu, 29 Maret 2014

The [Un]lucky Girl - Lonyenk Rap


- Bukan Cinderella -

Judul buku: The [Un]lucky Girl
Penulis: Lonyenk Rap
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: ke-1, Maret 2013
Jumlah halaman: 160
ISBN: 9786027572133
Serenada Dewi (Nada) adalah boneka obsesi mamanya, Helen. Helen terpaksa mengubur impiannya menjadi penyanyi karena tidak mendapat persetujuan orangtuanya. Obsesinya tidak pernah sepenuhnya terkubur dan kembali bersama dengan kelahiran Nada.

Keluarga Nada bukan termasuk kalangan kaya, tetapi Helen selalu bisa mengikutkan sertakan Nada dalam berbagai les bakat. Kerja kerasnya berhasil ketika sebuah perusahaan rekaman besar mengontrak Nada.
Carmen, sahabat Nada, iri tehadapnya. Tidak seperti Nada yang terpaksa menuruti ambisi mamanya, Carmen memang ingin menjadi artis. Carmen pun ikut pindah ke Jakarta dari Mempawah (Kalimantan Barat) mengikuti Nada. Carmen bergabung dalam sebuah agency. Namun, karirnya tidak semeroket Nada.

Nada dan Carmen dipertemukan kembali dalam sebuah syuting video klip, dengan Carmen sebagai modelnya. Lawan main Carmen adalah Andi Kenzo. Carmen sudah mengagumi Andi Kenzo sejak dulu, tetapi Kenzo justru berbalik tertarik pada Nada. Kebencian Carmen semakin meluap. Dia pun menyusun rencana menghancurkan Nada.

Tanpa perlu ditambah kelicikan Carmen, hidup Nada pun sudah di ambang kehancuran. Keluarganya yang sejak dulu nyaris tidak pernah akur, semakin mendekati kehancuran. Segala masalah membuat karir Nada semakin dekat dengan kehancuran.

* * *

Pernahkah kita mempertimbangkan hal yang akan kita lakukan bahwa hal itu akan berdampak hingga ke keturunan kita yang ke sekian? Atau, setidaknya membayangkan dampak jangka panjang yang mungkin terjadi? Mungkin hal semacam itulah yang dialami Nada. Karena kakeknya, dia menjadi objek "balas dendam" ibunya. Dan karena obsesi ibunya, dia harus menanggung semua kerumitan.

Saya rasa, penulis berusaha mengingatkan kita bahwa obsesi berlebihan sangat tidak baik. Terlebih, menjadikan orang lain sebagai objek perwujudan obsesi itu. Lebih-lebih, ketika obsesi itu terwujud, objek itu malah ditinggalkan, seolah dengan terwujudnya obsesi itu, urusan kita selesai. Sayangnya, salah. Dengan terwujudnya obsesi itu pada orang lain, kita justru harus bertanggung jawab untuk membimbing orang itu kalau sampai ada masalah.

Saya sangat kasihan terhadap Nada. Sepanjang hidupnya hanya sebagai boneka. Karena itulah, ketika dia harus menghadapi masalah seorang diri, dia tidak siap. Rasa-rasanya, saya ingin melaporkan Helen ke Komnas Perlindungan Anak.

Saya tidak tahu apakah ada orangtua seperti Helen di dunia nyata. Satu hal yang saya ketahui, orangtua yang memaksakan cita-cita anaknya tentu ada. Saya berharap, sengaja atau tidak, mereka membaca buku ini.

Tokoh yang menurut saya cukup biasa (tidak penuh obsesi dan tidak perlu dikasihani) hanya Andi Kenzo dan Yolanda, manajer Nada. Kenzo adalah pacar baik hati dan seleb profesional. Yolanda perannya tidak terlalu menonjol, tapi saya suka dengan kewajaran karakternya.

Kekecewaan terbesar saya pada novel ini terletak pada pemilihan kata.

Dialog pada bagian awal membuat saya ingin menggigit selimut. Kaku. Baku. Bahasa yang digunakan terlalu baku, apalagi ketika yang berbicara adalah Panca Buana, ayah Nada, yang sepertinya tidak berpenddidikan terlalu tinggi. Tapi, saya tidak tahu mungkin di Mempawah memang seperti itu gaya percakapannya.
Narasi buku ini seolah dipaksa seperti percakapan sehari-hari, seperti pada halaman 40:
Serenada memang tak minta izin dulu sama Helen. . .
Sama. Saya terlalu terbiasa dengan kata "kepada" untuk narasi semacam itu sehingga menemukan kata "sama" terasa janggal.

Saya semakin gegeregatan ketika menemukan beberapa bagian yang butuh "donor spasi". Saya tidak akan menyebutkan bagian mana saja yang membutuhkan donor spasi karena novel ini sudah saya simpan di rak.

Sayangnya, karena terlalu banyak kesalahan teknis, saya menjadi tidak bisa fokus terhadap jalan cerita. Jadi, untuk yang satu ini, kesalahan teknis jelas memengaruhi rating yang saya berikan.

Yang jelas, pesan dari novel ini jelas sejelas-jelasnya: Orangtua tidak boleh terlalu memaksakan kehendak pada anak.

Dari dulu, saya selalu berharap akan menemukan cerita mengenai orangtua otoriter. Jadi, saya tidak sepenuhnya kecewa dengan buku ini.

Saya berharap, kalau novel ini bisa cetak ulang, novel ini diperbaiki pada beberapa bagian. Saya bukan editor dengan tingkat pengetahuan sastra tinggi, jadi mungkin segala hal yang saya ungkapkan tidak dapat diadu argumen melalui sastra. Saya hanya seseorang yang suka berkomentar dan selalu mengharapkan novel bagus. 

Satu hal lagi yang saya tangkap dari novel ini adalah penerbit sudah mengadakan perubahan terkait karya-karya yang diterbitkannya. Buku-buku yang sudah saya baca sebelum ini, yang terbit setelah buku ini, semua cukup memuaskan dan bisa menjadi teman minum teh. Penerbit ini juga termasuk penerbit yang saya tunggu keluarannya.


Rating




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar