Jumat, 07 Februari 2014

Surat untuk Stiletto Book

"Cinta itu cukup ditunggu. Tidak perlu dicari. Ketika datang orang dan waktu yang tepat, dia akan ada, dan kamu akan menemukannya. Seperti cinta itu yang juga akan menemukanmu." - Kelana. Geek in High Heels.

Pertemuan pertama kita adalah ketidaksengajaan. Aku yang ketika itu tidak memiliki tujuan, menjejakkan kaki ke sebuah toko buku. Lalu, kita bertemu. Kau menarikku dengan penampilanmu. Aku nyaris tidak pernah memerhatikan fisik apalagi penampilan. Tapi, kau begitu berbeda. Kau penuh warna.  Aku, yang saat itu sedang jenuh, terpikat olehmu. Sebuket bunga yang kau bawa saat itu menambah rasa ingin tahu menyusup memenuhi hatiku. Lalu, kuputuskan untuk mengenalmu. 

Kau tahu apa yang lucu dari pertemuan pertama kita? Kau membicarakan pernikahan. Astaga, bayanganku mengenai hal itu masih sangat jauh. Tapi justru itulah yang membuatku tertarik. Kau tidak berbelit-belit, membuatku mudah memahaminya. Kau tidak mendongengiku dengan drama penuh air mata atau kisah-kisah manis yang hanya ada dalam khayalan. The Marriage Roller Coaster. Marriage is like roller coaster. Itu yang kau katakan. Sederhana namun mengharukan.
Pertemuan pertama yang membuatku sangat terkesan, membuatku menarik kesimpulan kau adalah observan yang baik, mengerti duniaku.

Stiletto,
Percayakah kau pada takdir? Aku percaya. Pertemuan kita adalah buktinya.
Jika saat itu aku tidak bertemu denganmu di toko buku, mungkin sekarang kita belum saling kenal.

Setelah pertemuan pertama itu, aku mencari tahu tentangmu.  Kau boleh berpikir aku terobsesi , tapi aku sungguh ingin lebih mengenalmu. Aku pun bertemu sahabat yang sedang mengadakan kuis, Warung Blogger. Aku tidak pernah mengira aku akan memenangkannya, tapi mungkin ini adalah takdir. 

Kali ini, kau datang di saat aku sedang terpuruk. Aku nyaris menyerah dengan apa yang kulakukan. Saat itu juga kau datang. Kau memberiku A Cup of Tea Menggapai Mimpi. Secangkir teh paling harum yang pernah kuhirup. Katamu, itu berasal dari racikan kisah-kisah orang-orang terpilih. Kau mengembalikan semangatku. Ah, aku ingin berbagi racikan itu kepada sahabat-sahabatku. Kau tidak keberatan, kan?

Pertemuan kita selanjutnya adalah kesengajaan. Sayangnya, rencana itu tidak berjalan mulus. Aku tidak mengetahui di mana saat itu kau berada. Mungkin ini kebodohanku karena berasumsi kau akan berada di tempat yang sama. Ternyata tidak. Tapi, keinginkanku tidak luluh. Aku harus berjumpa denganmu hari itu juga. Tekadku membuatku mampu berjalan ratusan meter tepat saat matahari berada di puncak. 

Lelahku terbayarkan ketika aku mendapatimu di tempat itu. Lagi-lagi waktu berjam-jam kuhabiskan denganmu. Aku tidak merasa waktuku terbuang percuma. Aku terlalu menikmatinya. Kali ini, kau bertutur mengenai kisah yang dibuat sahabatmu, Octa NH, Geek in High Heels. Kisah manis yang menghilangkan perasaan kesepian.

Stiletto, setiap orang akan merasakan kemenangan dan kekalahan, kan?

Aku menuturkan kisah pernikahan impianku untuk mendapatkan cerita cinta Pre Wedding Rush darimu. Aku memaksakan otakku bekerja untuk membayangkan pernikahan itu. Aku belum ingin membayangkannya. Dan, aku kalah. Sekali terjatuh tidak masalah untuk dapat merasakan nikmatnya berjalan dengan baik.
 
Stiletto, ini beberapa gambar bukti aku semakin mengenalmu.




Dear,
Aku bukanlah seorang pujangga yang pandai bertutur kata-kata manis.
Aku pun bukan seorang pelukis yang mampu mengungkapkan isi hati dengan gambar-gambar indah.
Aku hanyalah seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Jatuh cinta kepada sosok yang dia rasa sangat mengerti dirinya, mengerti dunianya.
Jatuh cinta kepada sosok yang membuatku merasa menjadi perempuan adalah anugerah.
Aku ingin mengabarkan pada semua orang bahwa aku telah menemukan sosok yang sangat indah.
Aku ingin semua orang mengenal sosok itu.
Dan sosok itu adalah kamu.

Stilo, bolehkah aku berharap kau tidak akan membuatku kecewa? Bolehkah aku berharap kau selalu dapat membuatku tersenyum kapan pun kubutuhkan?

Aku harap, semakin waktu bergerak, pesona luarmu bertambah, berbanding lurus dengan keindahan jiwamu. Aku harap kau selalu dan semakin mengerti duniaku. Aku harap kau tidak melupakan para gadis remaja di luar sana yang memujimu, aku harap kau bisa menuturkan kisah-kisah manis bagi mereka, sesuai fase hidup mereka.

Namun, aku tidak berharap aku menjadi satu-satunya orang yang memilikimu. Kau terlalu indah untuk kumiliki seorang diri. 

Happy 3rd birthday, Stilo. More smart, more sexy.


With Love,

Afifah Mazaya 
(ffhmazaya@gmail.com)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar