Minggu, 23 Februari 2014

Anak Mamak Beli Buku

"Anak SMP jaman sekarang jajanannya J.Co. Perasaan dulu gue jajannya batagor."
Itulah yang saya katakan kepada teman saya ketika melihat dua anak SMP, salah satunya membawa sekotak J.Co. Pernyataan saya itu disambut pernyataan yang lebih mengejutkan: "Itu sih mending, waktu di angkot, anak SMP ngomonginnya billiard."

Saya langsung "terpesona". Saya saja belum pernah menyentuh stik billiard, nah itu anak SMP mainnanya bukan lagi tazos. Oke, tazos itu mainan anak SD, anak SMP nggak punya mainan, tapi bukan berarti main billiard. Walaupun saya belum pernah masuk ke tempat billiard, tapi melihat tempat-tempat semacam itu di drama Korea dan membayangkan bocah-bocah itu, sukses bikin merinding. 

Pembahasan mengenai anak SMP berlanjut dan berakhir pada pertanyaan "Ke mana orangtuanya?". Mungkin sibuk, mungkin terlalu percaya, mungkin nggak mau anak mereka kuper, mungkin mungkin yang lain pun banyak. Saya tidak akan membahas hubungan itu karena blog ini adalah blog buku.

Perilaku anak SMP semacam itu membuat saya ingat beberapa novel yang pernah saya baca. Tidak ada satu pun yang membahas anak SMP, tapi bukan tokoh pada novel tertentu yang akan saya bahas. Yang akan saya bahas adalah mengenai cara mendapatkan novel bagi anak-anak SMP-SMA.

Menumbuhkan minat baca terhadap anak memang sangat penting. Dari dulu sudah digembar-gemborkan untuk mendidik generasi pecinta buku. Masalahnya, buku seperti apa yang boleh dibaca.

Saya mulai suka membaca sejak SD, dimulai dari membaca komik. Ketika SMP, saya mencoba novel. Sayangnya, tidak semua bacaan saya sesuai usia karena ketidaktahuan. Saya hanya memilih buku yang saya rasa menarik. Sewaktu kelas 5 SD, itu pertama kalinya saya mendapati adegan kissing. Waktu itu saya cepat-cepat melewatinya kerena takut ketahuan. Tapi, lama kelamaan, saya merasa adegan semacam itu lumrah. Hampir semua komik perempuan memiliki adegan itu dan rata-rata tokohnya anak SMA, kadang SMP. 

Beralih ke novel. Hampir semua novel roman yang saya baca pun memiliki adegan itu, bahkan kadang feel-nya lebih nyata. Adegan-adegan yang lebih ganas juga bertebaran. Saya tidak akan menyalahkan siapa pun karena pada dasarnya genre novel tersebut sudah masuk kategori dewasa. Jadi, kalau ada anak kecil yang membacanya itu adalah kecelakaan.

Masalahnya, kenapa bisa mereka membaca itu? 
Satu-satunya jawaban yang bisa saya dapatkan adalah kurangnya pengawasan. Saya ingat setiap kali ke supermarket, pembeli minuman beralkohol wajib menunjukkan kartu tanda pengenal. Saya juga ingat beberapa bioskop melakukan hal yang sama untuk film bergenre dewasa. Sayangnya, semua itu tidak ada di toko buku dan perpustakaan (setidaknya begitu di kota saya). 

Waktu saya masih SMP, saya pernah membeli komik berlabel D. Awalnya saya tidak menyadari, tapi ketika di kasir, saya melihat tulisan itu. Sayangnya, karena gengsi selangit dan malas kembali lagi, saya tetap membayar komik itu. Dan, saya juga tidak menunggu sampai saya mencapai level D untuk membaca komik itu. Untung saja, selesai membaca komik itu saya justru bertanya-tanya kenapa berlabel D. Jawaban saya terjawab pada volume selanjutnya. Sedikit sadis.

Waktu SMA saya juga pernah membeli novel, lagi-lagi tidak melihat label, hanya melihat sinopsis misterinya. Dan yang namanya novel, alirannya lebih keras dibanding komik. Sampai sekarang novel itu belum (atau mungkin tidak) saya selesaikan. Teman saya meminjam novel itu dan sekarang keberadaannya entah di mana (malah curhat. :P ). Tapi, saya sempat ngintip adegan eksplisit itu.

Di Twitter juga saya mengenal anak SMP yang sangat suka manga Attack on Titans yang menurut saya sadis.

Oh, ya, batasan usia bukan hanya untuk adegan seksual, but also adegan kekerasan. Bunuh-bunuhan, mutilasi, sungai darah, dsb.

Saya jadi ingat Crash Into You karya aliaZalea (yang belum saya review). Saya jadi bertanya bagaimana kalau novel ini sampai ke tangan, minimal, anak SMA? Sinopsisnya memang cukup jelas, tapi mungkin saja ada anak SMA yang penasaran akut. Toh, sekarang banyak yang menganggap hal itu biasa. Tetap saja kan kalau kejadiannya sampai seperti Dirty Little Secret, tidak akan biasa lagi.

Siapa yang mau disalahkan?
Nggak ada. Saya hanya berpikir mungkin ketika memilih buku perlu hati-hati dan mungkin orangtua mengetahui buku yang diinginkan anaknya. Mungkin juga novel-novel (buku) tertentu perlu menunjukkan kartu identitas untuk membelinya. Untuk ebook, memang lebih sulit dideteksi.

Memang belum ada kasus sexual harassment, pembunuhan, dan semacamnya gara-gara buku. Tapi tidak menutup kemungkinan seorang kutu buku penasaran dan ingin mencoba, kan? Mungkin saja karena seringnya membaca buku, seorang pembaca menganggap tindakan impulsif adalah normal. 

Contohnya, seorang teman saya yang gemar membaca komik sekaligus gemar menyakiti diri sendiri. Genre komik yang dibacanya adalah genre "menyakitkan". Mungkin hal itu dilatarbelakangi mental dia juga, tetapi menurut saya, komik yang dibaca me"normal"kan tindakannya.

Memang tidak hanya buku yang me"normal"kan tindakan semacam itu. Televisi, film, game, memiliki peran yang sama. Jadi, tidak bisa hanya menyalahkan satu sebab. 

Saya berharap kejadian seperti teman saya itu tidak terjadi pada orang lain, apalagi sampai merugikan pihak lain.



6 komentar:

  1. dulu aku pernah juga beli komik pas sd, kirain komik apaan, ga taunya ada adegan yang ga semestinya. ya, gitulah. makanya serem aja ngebayangin anak-anak sekarang. kiblatnya ke mana ya? nyari lagu, mainan, buku, dll yang memang sesuai dengan usia mereka, itu susah. sampe sering aku baca teenlit yang aku review kok malah rasa-rasanya ga sesuai cz bahas homoseks segala -_-" duh, bingung jadinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. What!!??? homoseks... di teenlit... speechless. aku belum pernah baca teenlit yang membahas homoseks. udah makin parah. itu penulis indonesia? keberadaan hal-hal yang "biasa" di novel kan bisa jadi pembiasaan di kehidupan nyata juga.

      Hapus
    2. oia! aku juga pernah nemu, tapi orangtuanya yang seperti itu, disebutkan dibagian akhir. dan itu aku review. -_-"

      Hapus
  2. hehehe, jamannya saya jarang beli buku mbak tapi pinjam buku kakak saya soalnya dia suka beli novel Mira W dan bunda Helvy :)

    BalasHapus
  3. tazos itu game favorite saya pas jaman SD B)

    BalasHapus
  4. Jadi ikut prihatin dengan keadaan yang 180° berbalik dari harapan para orang tua..
    Keren banget tulisannya, menuliskan keresahan hati akan keadaan lingkungan.

    Oh, sungguh jarang-jarang lho nemukan anak muda-mudi yang prihatin apalagi peka terhadap lingkungan seperti kak Afifah.. teruslah berkarya kak! Tebarkan apa yang benar,!! Nice post..
    Salam kenal..

    BalasHapus