Rabu, 29 Januari 2014

Unfriend You - Dyah Rinni


 - Don't Judge People By Their Popularity -


 Judul buku: Unfriend You: Masihkah Kau Temanku?
Penulis: Dyah Rinni
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: ke-1, Juni 2013
Jumlah halaman: 286
ISBN: 9780780648


"Di setiap diri kita ada matahari. Cuma setiap orang sibuk ngeliatin matahari yang lain." - Langit to Katrissa


Novel ini dibuka gelap. Katrissa tersudut dalam Pojok Derita. Aura dan Milani berusaha membongkar pintu toilet itu dengan paksa, bersiap membuat Katrissa menyesal telah hidup.

Katrissa adalah murid Eglantine High School (Egan). Ia adalah sahabat Aura dan Milani. Aura tidak mau menyebut mereka genk. Aura lebih suka menyebutnya inner-circle. Mereka adalah salah kelompok paling populer di Egan. Semua orang ingin bergabung, tetapi Aura tidak akan membiarkan sembarang orang bergabung. 

Namun, hari itu berbeda. Seorang murid baru ditempatkan di kelas Katrissa dan Aura. Priska namanya. Dengan cepat, Priska mampu menarik perhatian Aura sehingga bisa masuk ke dalam lingkaran Aura. Ketika Jonas, pacar Aura, mengatakan tantenya mengajak Aura, Katrissa, dan Priska menjadi model online shop-nya, Aura mau saja menyembunyikan hal itu dari Milani. 

Sayangnya, Aura harus menyesali keputusannya mengajak Priska. Priska terlalu menarik. Priska dengan segera mendapat banyak pujian. Priska juga menebar pesona pada Jonas. Dan, kehadiran Jonas justru membuat sesi pemotretan Aura berantakan.

Bukan Aura namanya kalau hanya tinggal diam melihat Priska menjadi pusat tata surya dan mengambil Jonas. Aura melakukan tes kesetiaan: memetik bunga. Memetik bunga versi Aura bukan memetik bunga di kebun, membawa keranjang rotan dan memakai topi lebar, melainkan berarti mengutil. Aura, Milani, dan Katrissa sudah sering melakukannya. Ini bukan masalah uang. Kalau mau, seluruh isi toko pernak-pernik bisa saya mereka beli. Ini masalah kesetiaan. Bagi Aura, hanya sahabat yang setialah yang berani melakukan hal semacam itu. 

Memetik bunga bersama Priska pun dilakukan di sebuah toko bernama Edelice. Tanpa diduga, penjaga toko itu adalah seorang cowok geek murid sekolah mereka: Langit. Langit mengenal Katrissa, Katrissa pun mengenal Langit, tetapi Aura tidak akan membiarkan circle-nya bergaul dengan kaum itik. 

Aksi pun dilakukan. Aura, Milani, dan Katrissa dengan mudah mengambil sebuah barang. Namun, Priska hanya terpaku, ketakutan. Sebagai gantinya, Katrissa terpaksa membantunya.

Hal itu membuat Aura marah besar. Sudah jelas, Priska harus mendapat hukuman. Namun, setelah hukuman itu, Priska tetap menjadi bagian dari lingkaran Aura. Tidak ada yang pernah tahu jalan pikiran Aura.


Masalah Aura dengan Priska muncul kembali ketika foto-foto pemotretan ditampilkan ke media. Priska tampil sebagai foto utama website online shop tersebut. Kecemburuan Aura muncul ketika melihat Jonas memelototi foto Priska. Aura dan Jonas bertengkar hebat. Aura mulai melancarkan serangannya pada Priska. 

Fitnah. Itulah cara termudah membuat semua orang membenci seorang tertuduh. Dengan semua tudingan, semua bullying yang jatuh pada Priska, Aura tetap hadir sebagai sosok malaikat tak bersalah. Kehancuran Priska membuatnya melakukan percobaan bunuh diri.
  
"Terus gue harus bagaimana? Kasihan gitu? Dia cewek yang udah menghancurkan hidup gue, berusaha ngerebut Jonas dari gue. Gue malah menyayangkan kenapa dia nggak mati sekalian!" - Auro to Katrissa

Nurani Katrissa merasa semua perbuatan Aura salah, tetapi terlalu takut untuk menentang. 

"Gue udah tahu rasanya dikucilkan, nggak punya teman sama sekali, Langit. Gue nggak sudi ngalamin itu lagi!" - Katrissa to Langit

Saat itulah lagi-lagi Langit ada. Langit, sebagai panitia Bullying Awareness Week, menguatkan Katrissa untuk melakukan hal yang benar. Katrissa meyakinkan dirinya untuk mendukung Priska.

Aura sudah di luar batas. Aura bahkan bersikap biasa saja mengetahui Priska mencoba bunuh diri. Katrissa ingin melawan, tetapi ia tidak ingin bernasib seperti Priska.  

Setelah mencari kabar kesana-kemari, Katrissa akhirnya secara tidak sengaja memergoki tante Priska pulang ke rumahnya dan mengatakan Priska berada di Sukabumi. Katrissa diantarkan menemui Priska. Tanpa terduga, ada seseorang lain menemui Priska pada hari yang sama: Jonas. Ketika Jonas mengajaknya pulang bersama, tanpa pikir panjang, Katrissa mengiyakan. Namun, ia tidak tahu Aura dan Milani membuntuti mereka. 

Serangan terhadap Katrissa pun dimulai.
* * *
Saya sudah lama membeli novel ini, tetapi baru berhasil melahapnya habis sekarang. Novel ini saya beli di salah satu toko buku online yang sedang mengadakan diskon. Kalau tidak salah, harganya Rp21.000 dari harga di tokbuk Rp42.000.

Novel ini mengangkat tema bullying. Membaca bab pertama buku ini saya sedikit jengah. Egan adalah sekolah anak-anak orang kaya. Saya langsung membayangkan dorama Hana Yori Dango. Hal pertama yang menjadi pertanyaan saya adalah: kenapa bukan sekolah biasa?
Saya tetap meneruskan membaca karena tertarik dengan gaya penulis. Ini pertama kalinya saya membaca karya mbak Dyah Rinni. Saya langsung menyukai gayanya, ditambah tidak adanya miss-spelling, membuat saya terhanyut. Kejengahan berganti dengan kecanduan. Membayangkan setting Eitoku Gakuen, sekolah dalam Hana Yori Dango, membuat saya betah. 
Satu-satunya hal yang menganggu saya adalah penggunaan “tidak” pada beberapa percakapan antarteman yang membuat terasa kurang natural. Saya pun menggantinya dengan kata “nggak” dalam pikiran saya sendiri.
Novel ini memiliki sudut pandang orang ketiga, dengan tokoh utama Katrissa. Di awal, Katrissa hanya tokoh yang memendam dilema, hanya mengamati, tak berdaya. Katrissa digambarkan sebagai sosok itik yang diangkat menjadi angsa oleh Aura. Katrissa selalu takut kehilangan sahabat-sahabatnya dan kembali menjadi itik. Kehadiran Katrissa sebagai sahabat Aura menjadikan tema bullying ini juga terlihat dari sisi pelaku, bukan hanya korban.
Aura digambarkan melalui sudut pandang Katrissa sebagai sosok matahari. Aura pusat tata surya, Aura yang tidak mau ditentang, Aura yang posesif dan Aura yang selalu tampak baik kepada orang lain. Dan diakhir, Aura yang ternyata menyimpan rahasia keberadaannya di Egan.
Sosok yang menurut saya tidak jelas adalah Jonas. Saya sempat mengira Jonas adalah tokoh yang baik, tetapi ketika penggencetan terhadap Priska terjadi, Jonas sama sekali tidak muncul. Kalau dia memang baik, seharusnya dia peka Aura berada di balik semua ini. Lalu, tiba-tiba dia muncul di tempat Priska, kembali membuat saya berpikir dia baik. Ah, sudahlah.
Tokoh yang benar-benar bersih adalah Langit. Langit digambarkan sebagai seorang siswa berkacamata dan bergigi kelinci, geek, se-geek-geek-nya. Tapi, dia ingin membela kaum tertindas. Langit digambarkan sebagai sosok yang baik, tetapi sering dikecewakan, dan sering menyimpulkan sesuatu sendiri dan beberapa kali bertengkar dengan Katrissa. 
Untuk pertama kalinya, saya bisa membayangkan tokoh dalam novel seperti tokoh dalam film (walaupun hanya 2):
Ikuta Toma as Oribe Junpei
Langit

 Sato Megumi as Sanjo Sakurako
 Priska

Novel ini cukup menegangkan. Beberapa kali Katrissa membohongi Aura dan membuat saya menduga-duga apa yang akan terjadi jika ketahuan. Ketegangan juga terjadi ketika amarah Aura sudah memuncak dan bullying dilakukan. Memang tidak ada adegan seperti pada video genk motor, tetapi penulis mampu membuat saya gemas terhadap Aura dan sempat mempertanyakan kejiwaan Aura. Penulis membuat tekanan batin menjadi senjata terkuat pelaku bullying.
Novel ini mengajarkan kita untuk berani menyikapi bullying. Bagaimana satu orang saja mampu membuat seluruh sekolah memojokkan seseorang hingga membuatnya ingin mengakhiri hidup. Bagaimana peran-peran orang terdekat mampu memberikan kekuatan pada korban. Bagaimana seseorang harus memilih mem-bully atau di-bully. Bagaimana suatu penindasan dapat diselesaikan dengan keberanian korban berbicara. Dan, bagaimana para saksi sebenarnya mampu mencegah, tetapi terlalu takut dengan berbagai ancaman. Satu hal yang mampu membuat bullying bertahan adalah tidak adanya keberanian berbicara dan menentang. 
Selain penentangan terhadap bullying, satu pesan lain yang saya tangkap adalah jangan mudah percaya gosip bahkan jika yang menyebarkan adalah malaikat. 
Novel ini saya rekomendasikan untuk para remaja dan orangtua. Orangtua juga harus melihat dunia bullying dari bagian dalam.
Rating:



6 komentar:

  1. hmm, tidak adanya keberanian untuk bicara dan menentang ya? bener juga sih, kalo bisa bicara pasti dia ga akan dibully lagi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. minimal pembully dipindah atau dikeluarkan.
      kalau ga bicara, tetap akan dibully juga.

      Hapus
  2. Makasih atas reviewnya. Bulan ini tepat setahun penggarapan Unfriend You. Sungguh menyenangkan melihat seseorang mereview buku ini, menghidupkan kembali Unfriend You, membuat saya merasa kerja keras saya terbayarkan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, mba.
      maaf saya baru baca. agak menyesal juga menumpuk buku ini terlalu lama karena ternyata tipe yang sangat saya suka . :)

      Hapus
  3. Aduh bullying ya...ngeri deh klo ngebayangin itu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. di novel ini adegan bullying-nya dibuat ga mengerikan kok, tapi tetap bikin emosi naik-turun. :)

      Hapus