Minggu, 19 Januari 2014

Salad Days: The Unforgettable Friendship - Shelly Salfatira


 - Beragam Buah dengan Satu Dressing -


Judul buku: Salad Days: The Unforgettable Friendship
Penulis: Shelly Salfatira
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: ke-1, Juli 2013
Jumlah halaman:232
ISBN: 97897996310


Buntelan dari GPU. Kesan pertama saya melihat cover buku ini adalah warnanya kurang ceria, ditambah keberadaan bola basket itu seolah menandakan kesendirian. Padahal, ketika membaca sinopsis di sampul belakang, saya juga tidak merasakan akan menemukan cerita yang muram.
Selain memiliki prestasi akademis cemerlang, Greta begitu diandalkan dalam tim basket SMA-nya. Ia menikmati kehidupannya yang penuh warna bersama sahabat-sahabatnya: Hanna, Boy dan Patrick. Tapi semua itu berubah ketika sekolahnya kedatangan murid baru, Dirga. Kesan pertama yang ditinggalkan Dirga dihadapan Greta tidaklah mengenakkan, bahkan membuat Greta cukup kesal.

Namun ketika Dirga direkrut menjadi anggota tim basket, mau tak mau Greta melihat sisi lain Dirga yang cukup mengagumkan. Hanya saja, saat itu Dirga terlanjur akrab dengan Hannah. Apakah Greta harus mengalah demi sahabatnya?

* * * 
Setelah membaca novel ini sampai selesai, saya tetap berpendapat bahwa warna cover kurang cerah. Sinopsis di cover belakang menurut saya sudah cukup memberikan gambaran isi buku. Temanya biasa saja, seputar cinta dan persahabatan. Cinta segitiga antara Greta, Dirga, dan Hannah, diselingi perasaan teman-teman lainnya yang juga menyukai Greta. Dan, seperti biasa juga, halangan cinta itu adalah persahabatan.

Tapi,

Satu kata untuk novel ini: Puas

Ini Teenlit pertama karangan penulis Indonesia yang saya baca setelah sekian lama. Bukan apa-apa, saya memang kurang update mengenai teenlit, juga karena saya sekarang menyukai cerita yang agak dewasa, bukan dalam tanda kutip. Untungnya, setelah sekian lama itu saya tidak dikecewakan.

Novel ini adalah novel debut penulis. Sebagai novel pertama, saya rasa debutnya cukup bagus. Pemaparan cerita dalam novel ini cukup unik. Sudut pandang orang pertama dari Greta, Dirga, Hannah, Patrick, dan Boy. Sudut pandang bergantian setiap berubahan adegan, ada beberapa yang mengulang adegan dari sisi tokoh berbeda dan dilanjut dengan adegan tokoh itu sendiri. Jadi, dalam satu bab ada beberapa sudut pandang orang pertama, kecuali Boy yang sudut pandangnya hanya muncul sekali. Jadi, pembaca bisa mengetahui perasaan sesungguhnya para tokoh, termasuk kebingungan-kebingungan masing-masing.

Hal yang saya suka dari novel ini adalah ceritanya tidak termehek-mehek. Bahkan, unsur romance-nya kurang terasa, lebih ke arah persahabatan. Tapi, itulah yang membuat saya bisa menyukai suatu cerita remaja, terasa nyata. Saya kurang menyukai cerita remaja yang terlalu fokus terhadap masalah percintaan sampai tokohnya menangis-nangis, depresi, atau meledak-ledak karena saya belum pernah melihat hal semacam itu di kehidupan nyata (adegan labrak-melabrak dan pertengkaran cowok-cewek ada, tapi tidak memengaruhi akademis seolah akan berdampak pada masa depan). Memang ada bagian Greta menutup diri, tapi masih dalam batas wajar kelabilan remaja. Seperti kata Greta kepada diri sendiri:
Hello, I'm a sixteen year old girl, okay, going seventeen, but it all means I'm still a teenager.  Just enjoy this moment.
Unsur persahabatan terasa sekali, dan bagian yang paling saya suka adalah adegan bersama tim basket. Really fun! Yaah, memang sih karena temanya memang cinta yang terhalang persahabatan.

Satu-satunya hal yang menganggu saya adalah sosok Greta yang terlalu sempurna. Dia terlalu baik dalam segalanya - kecuali dalam hal kefeminiman - sehingga saya berpendapat hal itu berlebihan. Di sisi lain, saya juga menyukai sosok Greta yang pantang menyerah dan mampu menyembunyikan rasa sakit (cidera ankle) demi nama sekolahnya.

Dan, hal yang sampai sekarang saya pertanyakan adalah apa hubungan novel ini dengan salad. Seperti semua orang tahu, salad itu potongan buah-buahan atau sayur-sayuran, kadang sedikit bahan hewani, disajikan dengan dressing. Mungkin bahan-bahan utama salad itu ibarat para tokoh dan dressing-nya adalah visi mereka yang serupa tapi tak sama? Entahlah. Bagian judul ini bisa diabaikan.

Ending? Twist. Hohoho.

Overall, saya menyukai novel ini, walaupun ada beberapa hal teknis yang menjadi masalah, tetapi saya nyaris tidak menyadarinya, seperti kutipan di atas, saya tidak menyadari sebelum mengetik ulang kalimat tersebut. Mungkin yang paling menganggu adalah penggunaan "aku" pada POV Patrick, sedangkan POV Dirga menggunakan "gue". Mereka itu sama-sama cowok loh. Dan penggunaan "aku" oleh cowok anak basket, walau kalem, tetap terasa janggal.

Recommended untuk anak-anak sekolah yang ingin membuka mata bahwa masa sekolah itu menyenangkan dengan hal yang disebut dengan persahabatan dan dibumbui kisah kasih di sekolah, juga untuk siapa pun yang membutuhkan bacaan ringan.

Rating:









6 komentar:

  1. Hallo Kakak, boleh tanya? Boleh dong ya :))

    Itu cara bikin garis biru di kalimat ini, gimana sih?

    Selain memiliki prestasi akademis cemerlang, Greta begitu diandalkan dalam tim basket SMA-nya. Ia menikmati kehidupannya yang penuh warna bersama sahabat-sahabatnya: Hanna, Boy dan Patrick. Tapi semua itu berubah ketika sekolahnya kedatangan murid baru, Dirga. Kesan pertama yang ditinggalkan Dirga dihadapan Greta tidaklah mengenakkan, bahkan membuat Greta cukup kesal.

    Namun ketika Dirga direkrut menjadi anggota tim basket, mau tak mau Greta melihat sisi lain Dirga yang cukup mengagumkan. Hanya saja, saat itu Dirga terlanjur akrab dengan Hannah. Apakah Greta harus mengalah demi sahabatnya?


    Nah, di sampingnya kan ada garis biru, itu caranya gimana ya Kak? Boleh dong kasih tahu caranya. Heheh... Makasih :))

    @asysyifaahs
    www.kak-bi.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu klik yang ada gambar tanda kutip ("). Sebelumnya kalimatnya diblok dulu. Nanti paragrafnya akan menjorok ke dalam. Tapi, setelah dipost, belum tentu warna biru, bisa warna lain atau juga bentu kotak, tergantung template yang dipakai. Semoga membantu:)

      Hapus
    2. Oh, makasih Kak, tapi template aku nggak mendukung. Xoxo, makasih :))

      Hapus
  2. ternyata tak hanya saya saja yang sempat kebingungan dengan judulnya, karena ya diawal membaca judulnya "salad days" saya tak mengira jalan ceritanya seperti itu. tapi saya cukup terhibur dengan novel ini. ceritanya tak terlalu mainstream menurut saya hehehe

    BalasHapus
  3. novelnya okee banget. awalnya sih saya kira isinya bukan seperti itu karna judulnya...
    tpi sumpah keren abis....

    BalasHapus