Selasa, 21 Januari 2014

Paris: Aline - Prisca Primasari


- Falling in (Misterious) Love -


Judul buku: Paris: Aline
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: ke-1, Januari 2013
Jumlah halaman:224
ISBN: 9797805778

Pria yang diidamkan, sebut saja Ubur-ubur, Aline jadian dengan wanita lain, masih teman bekerja di Bistro Lombok. Tidak tahan menghadapi euforia itu, Aline memutuskan pergi dan berakhir di taman. Aline menemukan pecahan porselen. Ia merangkai kembali porselen itu dan mencari pemilik porselen dari nama yang tertera pada porselen tersebut: Aeolus Sena. Aline berhasil menghubungi nama itu, tetapi tanpa diduga orang itu memintanya bertemu di Bastille, bekas penjara di Paris, pukul 12 malam. Karena Sena yang memohon-mohon, Aline pun menurutinya. Sayangnya, setelah menunggu lama, Sena tidak juga muncul. Mereka berjanji lagi keesokan harinya di waktu dan tempat yang sama, kali ini ditemani Kak Ezra, tetangganya. Namun, lagi-lagi Sena tidak muncul. Laki-laki itu baru muncul 3 hari kemudian. Di luar dugaan, Sena ternyata laki-laki ekstentrik yang hanya berbeda tiga tahun lebih tua darinya.



Sebagai ucapan terima kasih, Sena memberi Aline tiga permintaan. Aline tidak dapat memutuskan permintaan apa yang akan dia ajukan saat itu juga, maka mereka bertemu lagi esok harinya. Setelah mengajukan permintaan pertama, mereka bertemu lagi karena masih tersisa dua perminaan. Sena membawa Aline ke Pere Lauchaise, sebuah pemakaman.

Setelah dari Pere Lauchaise, Sena secara tak sengaja mengajak Aline ke Bistro Lombok. Dan, terjadilah insiden yang membuat Aline terpikirkan permintaan keduanya: membuat Ubur-ubur dan Lucie putus.

Sena pun berusaha menuruti permintaan Aline, sayangnya rencananya tidak berjalan mulus. Dan, Sena yang blak-blakan justru mengatai Aline berpikir sempit.



“Kenapa kamu hobi banget sih ngasih kritik ke orang? Gimana dengan diri kamu sendiri?! Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang diri kamu? Aeolus Sena, orang terhebat sejagad… gitu cara kamu neglihat diri kamu?” – Aline to Sena



Aline yang tidak terima menunjukkan sisi emosionalnya, dan Sena meredakannya dengan menciumnya.


Namun, setelah itu, Sena seolah diliputi kengerian mendadak, lalu dia menghilang.
Aline, yang masih memikirkan kata-kata Sena dan ketidakrelaannya terhadap ciuman pertama dari orang tak dikenal itu, berbincang dengan Kak Ezra, dan sedikitnya mampu menaikkan semangatnya.



“Percayalah. Sejak saya mengenal Aline… hanya hal-hal terbaiklah yang terjadi pada saya.” – Ezra to Aline



Beberapa hari kemudian, Sena baru muncul kembali, menitipkan porselen dan sebuah bungkusan. Namun, hal mengejutkan terjadi, seorang wanita menyeramkan datang dan menarik Sena seperti anjing peliharaan yang tidak mau menurut.


Aline mau tak mau mengulik misteri Sena.



Beginikah cinta itu…? Saat kita tahu kutatak kasatmata bagi orang yang dicintai, tapi tetap melakukan apa pun demi orang itu…? Aku melakukannya terhadap ayahku, Kak Ezra melakukannya terhadapku… dan sekarang aku melakukannya kepada Sena. Apa aku jadi terbiasa dengan interaksi seperti ini…? - Aline




* * *


Ide ceritanya tidak biasa untuk ukuran GagasMedia yang biasa menerbitkan romance yang berkutat antara manis, asam, pahit. Romance dipadukan dengan misteri, ditambah setting Paris yang kental dengan nuansa klasik. Untuk yang satu ini, saya acungi jempol. Mungkin kalau setting musim dingin, akan semakin menguatkan alur, tapi karena harus mengambil cerita saat libur kuliah, memang liburan musim dingin tidak akan menambah kesan misterius karena justru akan ramai perayaan Natal dan Tahun Baru.



Awal cerita, kesan gloomy sudah terasa. Aline yang patah hati, Sena yang memohon-mohon, pertemuan di bekas penjara, sosok Ezra yang berada di balkon – entah sedang apa. Sampai pertengahan, cerita masih berkesan misterius, apalagi setelah kemunculan wanita-perkasa-serba-hitam. Saya mencoba menerka sebenarnya Sena itu jenis makhluk apa, yang sering hilang-muncul-hilang, dan suka dengan tempat-tempat menyeramkan. Perlahan, misteri mulai terkuak. Semua dugaan saya salah. Karena ternyata . . . 

Namun, bagian akhir, menurut saya, justru terkesan datar. Saya merasa Aline terlalu “pasrah” dan selanjutnya semua kurang digali. Sebetulnya saya berharap akan menemukan lebih banyak adegan mengenai pemecahan masalah Sena, tapi yah, hanya sekilas ternyata. Mungkin wajar karena novel ini menggunakan POV Aline sebagai orang pertama, jadi bagian Sena kurang mendapat tempat.

Jadi, rating yang saya berikan adalah untuk ide cerita berbumbu misteri ini, karakter Sena yang saya suka, dan aroma Paris yang berbeda dari biasanya. Buku ini cocok untuk pembaca romance yang menyukai cerita yang tidak terlalu kental dengan kesan romantis dan mainstream.


Rating:



 

4 komentar:

  1. Diambil di musim dingin? Woooo jangan, nanti jadi terasa lebih "dingin" novelnya hoho. Gini aja udah terasa "dingin" kok.

    Btw salam kenal, kunjungi blog saya di adeliaayuuu.blogspot.com :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sukanya yang dingin-dingin.
      Asalkan jangan ketemu orang berhati dingin. #salahfokus

      Salah kenal juga.
      Siap
      :)

      Hapus
  2. mbak prisca sering banget ya menyisipkan misteri di bukunya, bikin penasaran pengen cepet namatin bukunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku baru baca Paris karena baru kenal dari Paris. sekarang jadi tertarik dengan Kastil Es. :)

      Hapus