Rabu, 01 Januari 2014

Notasi - Morra Quatro


 - Suatu Janji -


Judul buku: Notasi
Penulis: Morra Quatro
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: ke-1, 2013
Jumlah halaman: 294
ISBN 9789797806 (ISBN13: 9797806359)


 Kepala saya masih pusing selesai membaca novel ini dalam keremangan dan harus segera menghadapi laptop untuk menulis review. Saya sudah berambisi akan menamatkan novel ini dalam satu hari di hari pertama 2014 ini dan langsung membuat review-nya supaya tidak keburu terbang dari ingatan. Maka, saya sepertinya tidak dapat memberikan sinopsis seindah cerita ini.

"Segera setelah keadaan mereda, aku akan mencari kamu lagi. Aku janji." - Nino to Nalia.

Kisah ini berlatar zaman Orde Baru.

Sudah bukan rahasia bahwa Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran UGM saling berlawanan kubu. Terlebih ketika Farel dari Fakultas Teknik dan Tengku dari Fakultas Kedokteran sama-sama menjadi calon Presiden BEM Universitas.

Pertemuan pertama Nalia dan Nino tidak pada keadaan yang menyenangkan. Nalia dan Zee mendatangi Radio Jawara di Fakultas Teknik untuk mengajak kerja sama publikasi acara yang diadakan Jurusan Kedokteran Gigi. Mencapai lapangan fakultas teknik, keduanya harus melihat kekejaman OSPEK terhadap para junior Fakultas Teknik. Berdiri di balik Farel, Presiden BEM Fakultas Teknik, yang sedang membentak junior, Nino, yang hanya dapat tertawa melihat sahabatnya menjahili junior.

Nalia dan Zee disambut oleh Ve (yang sebenarnya tidak pernah memperkenalkan diri, tetapi namanya diketahui karena disebut oleh Nino kemudian). Nalia dan Zee sebenarnya ingin bertemu dengan Aziz untuk membicarakan persetujuan yang sudah mereka bicarakan, tetapi Aziz sedang tidak di tempat. Ve pun mengatakan ia akan memanggil Amir sebagai wakil Aziz. Setelah menunggu cukup lama, bahkan setelah para panitia OSPEK selesai memberi pelajaran pada para junior, Ve baru kembali. Sayangnya, Ve mengatakan Amir pun tidak di tempat, tetapi Amir mengatakan biaya iklan sudah naik. Awalnya, kubu Teknik dan kubu Kedokteran Gigi hanya saling mempertahankan pendapat. Nalia mengatakan mereka sebelumnya sudah deal dengan Aziz dan seharusnya titah Aziz-lah yang perlu didengar. Namun Ve mengatakan Kedokteran Gigi adalah kampus kaya. Maka, memanaslah suasana hingga Nalia dan Zee pun pergi diiring tawa para anak Teknik, kecuali satu orang yang hanya memberikan senyum tulus: Nino.

Cerita berlanjut ketika Nalia, Zee, Lin Lin, Tengku, dan Aryo mendatangi radio D3 Teknik Elektro untuk permohonan kerja sama publikasi pada malam hari. Mulanya, Nalia lebih dulu seorang diri mendatangi sekre mereka, tetapi tidak berhasil. Kali ini, alasannya adalah mereka tidak dapat menyediakan jasa sesuai permintaan karena radio mereka masih ilegal (Jawara FM juga ilegal) dan ditambah kebebasan pers belum ada saat itu. Maka, giliran Zee, Lin Lin, Tengku, dan Aryo yang mendatangi radio itu. Nalia hanya menunggu di luar mobil Farel.

Saat itulah, Nino memarkirkan mobilnya di belakang mobil Tengku. Untuk pertama kalinya, Nalia dapat memandangi siluet utuh Nino. Sempat terjadi percakapan normal di antara mereka, bukan percakapan dua kubu yang bersitegang. Dan, terjadilah hal konyol. Di dekat Nalia, tiba-tiba muncul sosok berambut panjang dan bertubuh besar. Ketakutan, Nalia segera berlindung di balik punggung Nino. Dan, ternyata sosok itu adalah . . . mereka pun akhirnya tertawa.

Acara Nalia dkk terpaksa ditunda karena alasan publikasi. Ketika akhirnya publikasi diputuskan dilakukan dengan memasang poster di setiap fakultas dan universitas lain, Nalia mendapat tugas menyebar undangan se-UGM, yang artinya ia harus mendatangi Fakultas Teknik, tempat yang sangat tidak disukainya. Ketika mendatangi sekre Jawara, tempat itu sudah kosong. Kemudian, seseorang mengatakan sedang ada pertemuan di Teknik Arsitektur. Nalia pun pergi ke arah yang dituju orang itu. Ketika Nalia mendekat, ia terkejut mendengar suara meja digebrak. Beberapa saat, Nino keluar ruangan. Nalia yang kebingungan dengan undangannya, memanggil Nino untuk menyerahkan undangan tersebut pada Nino. Nalia memberanikan diri bertanya apa yang terjadi di dalam ruangan tadi. Nino mulanya enggan menceritakan, tetapi akhirnya Nalia berhasil membuatnya bercerita. Nino membawa Nalia ke sebuah warung dan menceritakan mengenai Radio Jawara yang meminta pelegalan frekuensi mereka ke Jakarta. Namun, karena suatu hal, bukannya mendapat pelegalan, ketika kembali, mereka justru dituduh korupsi oleh suatu surat kabar.

Akhirnya event Kedokteran Gigi, yang berupa lomba karya tulis, mencapai malam puncak. Nino, yang sudah berjanji akan datang, menepati janjinya walaupun sebelumnya Nalia perlu "menjemputnya" dahulu. Suatu terjadi pada malam ini. Paramiliter menyerang ke event tersebut, membuat satpam Kedokteran Gigi menjadi korban. Ternyata, diketahui bahwa salah satu karya tulis peserta menyinggung presiden dan karya tulis tersebut pernah dipasang di mading universitas pembuatnya.

Cerita berlanjut menuju detik-detik menuju Tragedi 1998 sampai berujung pada demostrasi besar-besaran dan penggulingan Orde Baru. 
Saat demonstrasi itulah saat terakhir Nalia melihat Nino. Berbulan-bulan kemudian, Nalia hanya mendapatkan surat-surat tanpa alamat. 
Mereka tidak pernah bertemu sampai belasan tahun kemudian. 
"In the end, we all have somebody to come home to." - Nino to Nalia.

* * *

Morra Quatro sepertinya senang menyangkut pautkan ilmu pengetahuan dengan kisah romantis. Tokoh-tokoh dari dua novelnya yang sudah saya baca semuanya kental dengan latar belakang akademis mereka. Hubungan antara suatu ilmu pengetahuan dengan romantisme juga terasa sekali. Setelah sebelumnya membuat romance berbaur dengan Fisika, kali ini romance berbaur dengan Sejarah. Entah apa yang akan saya temukan pada novel Believe.

Ketika membaca paragraf terakhir Prakata novel ini, saya sudah membayangkan akan seperti apa novel ini. Siapa yang tidak tahu Tragedi 1998. Paragraf terakhir ini mengungkapkan bahwa novel ini didedikasikan untuk para mahasiswa yang gugur atau hilang pada Tragedi 1998.

Novel ini dibuka dengan prolog Nalia dengan kekasihnya, Faris, pada masa sekarang. Di pertengahan cerita pun kembali ada adegan Nalia dan Faris, dengan Nalia yang tetap belum bisa melepaskan bayang Nino walaupun dua minggu lalu ia akan menikah. Sebenarnya, saya sudah bisa menebak sad or happy ending, tapi saya bertahan membaca karena penasaran dengan kejutan yang mungkin diberikan penulis. 

Hubungan romantisme Nalia dan Nino kurang diperlihatkan pada novel ini, tetapi itu justru membuat novel ini lebih nyata. Bagaimana mungkin masih bisa mesra-mesraan sebagai mahasiswa di tahun 1998, bukan? Bahkan, bukan adegan Nalia dan Nino yang membuat emosi saya naik turun, melainkan hal-hal mengenai Orde Baru dan segala perkembangan gerakan mahasiswa 1998, yang mengikutsertakan Nalia dan Nino. Saya pun tidak bisa tidak mengatakan bahwa saya menyukai novel ini karena bumbunya yang banyak, bukan karena bahan utama.

Ketika kerusuhan dan demontrasi terjadi, saya masih terlalu kecil untuk mengerti itu semua. Yang saya tahu adalah, ada orang-orang menyebalkan yang menganggu ketenangan hidup dan mengancam nyawa. Saya tidak peduli urusan mereka. Yang saya pedulikan adalah saya dihantui rasa khawatir. 

Jadi, novel ini, alih-alih, menerangkan keseruan-keseruan yang saya lewatkan semasa itu. Saya mengira-ngira kalau saya sudah berstatus mahasiswa saat itu, apakah saya akan ikut demo? Yang pasti saya tahu, orangtua saya tidak akan mengizinkannya.

Tipe putra Adam yang disukai Morra Quatro sepertinya adalah anak Teknik, tidak banyak bicara, tenang, erat dengan sahabat. Nino dan Will (Forgiven) memiliki kemiripan itu. Mereka juga sama-sama menghilang secara tiba-tiba *yang semacam ini jelas bukan tipe pria idaman siapa pun*.

Harapan saya cukup besar terhadap novel ini mengingat Miss Morra berhasil membuat saya tidak bisa move on dari seorang William Hakim selama berbulan-bulan. Sayangnya, sampai pada halaman 84, saya sampai menulis status fb begini: page 84 and I really hope I can't give only 3 or 3.5, but higher.

Yap, saya bosan. Konfliknya belum muncul. Masih perpusat hubungan dua fakultas, seperti keluarga Romeo dan Juliet. Sampai halaman 84, saya memutuskan meninggalkan buku ini sejenak. 

Tetapi,
Memasuki halaman 85, saya mulai betah membacanya lagi. Bagian yang mulai menaikkan ritme jantung dan tanda tanya yang semakin besar muncul juga. Kita kadang memang tidak tahu sudah seberapa dekat dengan harta karun.

Bagian favorit saya dari novel ini bukan ketika Nalia bersama Nino, walaupun adegan ini secara tidak langsung berhubungan dengan Nino. Bagian favorit saya adalah ketika Nalia kabur dari rumah dan bertemu tukang becak yang dengan semangat mengantarkan Nalia tanpa dibayar, lalu ia bertemu seorang ibu yang membawa kardus berisi botol-botol air mineral dan memberikan dua botol kepada Nalia. Semua itu mereka lakukan karena Nalia akan ikut berdemonstrasi! Bagi saya, itu adalah adegan yang mengharukan. Seperti seorang pahlawan yang yang diberi semangat oleh rakyat.

Sayangnya, beberapa adegan setelahnya adalah adegan kerusuhan dan kemudian Nino menghilang. 

Mungkin kisah Nalia dan Nino hanya secuil kisah pasangan di antara pasangan-pasangan lain yang terpisah ketika demonstasi 1998. Mereka terpisah tanpa mengetahui keberadaan orang yang dicemaskan, ditambah zaman itu internet dan ponsel belum banyak berkembang. Entah harus bertahan menunggu yang tak pasti dengan resiko takkan mendapat apa pun atau menerima yang lain dengan resiko suatu saat yang dinantikan datang.

Dengan segala kerusuhan dan hilang-hilangan sang tokoh, saya tidak merasa novel ini memiliki kisah sedih. Sudut Orde Baru lebih ditekankan dibanding sudut roman. Tapi, bagian-bagian ketika Nalia dan Nino bersama sebelum Nino menghilang saya menyukainya. Bagi saya, hal-hal itu sederhana, tetapi manis. Ditambah efek setting yang saya suka: pelangi, hujan, senja, dan malam. 

Sayangnya, kemanisan ini cukup dirusak oleh kesalahan pengetikan. Entah mengapa kedua novel Morra Quatro yang sudah saya baca keduanya bermasalah dengan pengetikan. Kali ini, sudah cukup menganggu saya karena bagi saya sudah mencapai taraf yang saya anggap banyak. Sebenarnya, kesalahan hanya terletak pada kurang spasi, tetapi bagi saya itu menganggu sehingga menurunkan rating yang saya berikan. 

Tapi, bagi yang menyukai cerita romantis tetapi tidak berlebihan ala remaja labil, novel ini cukup pantas menjadi pilihan.

Bicara soal pilihan, alasan saya memilih novel ini adalah karena saya penasaran dengan tulisan Morra Quatro yang lain. Sebenarnya, saya sudah berkali-kali melirik novel ini sebelum saya membaca Forgiven, tetapi masih bimbang karena belum mengenal penulis dan saya memang punya incaran novel lain dari penulis yang saya kenal (dan saya selalu membawa uang seperlunya ke toko buku). Jadi, setelah saya membaca Forgiven, saya justru terlalu ingin membaca novel ini. Dan, alasan saya terus melirik novel ini adalah karena cover-nya.

Pertama kali melihat sampul novel ini, saya merasakan sensasi es krim rasa coklat dan pandan. Saya serius. Saya belum memerhatikan detailnya dan baru melihat warna dasar hijau dan coklatnya. Saya menyukai novel-novel yang membuat saya teringat rasa-rasa enak ketika melihatnya.  Mungkin tampak aneh, tetapi memang begitu. Dan, setelah diperhatikan detailnya, saya menangkap kesan vintage darinya. Dan (lagi), saya memang menyukai sesuatu beraroma vintage. Gambar radionya bahkan membuat saya seolah mendengar cuplikan film adegan radio yang diputar pada film-film classic. Jadi, selain saya masukkan ke IRRC, novel ini juga saya masukkan ke Lucky No. 14 RC sebagai kategori Cover Lust. Untung saja novel ini semanis es krim rasa coklat dan pandan.

Oh, ya, saya belum membahas mengenai ending. Saya menyukai bagian akhir cerita ini. Intinya adalah, yang lebih kuat yang menang.

Saya bingung harus membahas apa lagi. Nino mungkin tidak berhasil membuat saya langsung move on dari Will, tetapi novel ini meyakinkan saya bahwa Morra Quatro memiliki identitasnya tersendiri dalam setiap tulisannya dan saya tidak perlu melengserkannya dari jajaran penulis yang karyanya saya tunggu. Beberapa penulis memiliki karya bagus dan tidak mengecewakan tetapi tidak membuat saya menunggu karya selanjutnya. Walau tidak move on dari Will, mungkin saya tidak sesegara mungkin dari kisah Notasi yang terasa tidak mengada-ada.

Jadi, akhirnya, saya mengucapkan, novel ini cocok dibaca oleh orang-orang romantis. *Bagi yang masih SMP, cuma perlu menskip satu halaman kok*. :P

Rating:
 




 




8 komentar:

  1. reviewnya lengkap banget :)
    aku sebel sama endingnya, huhuhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. awalnya aku juga sebel. setelah dipikir lagi, mungkin ingin menunjukkan keadilan

      Hapus
  2. Aku udah baca ^^ Kerusuhan orde barunya terasa sekali, bikin merinding. Endingnya juga bikin merinding sekaligus sedih hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju. tapi aku ga sedih. hhe. :)

      Hapus
  3. Suka karya Morra Quatro, tapi endingnya yang forgiven bener bikin remuk hati. Jadi takut baca notasi. -_-

    BalasHapus
  4. iyaaa reviewnya lengkap hehehe...suka sama covernya juga :)

    BalasHapus
  5. baru tahu kalau morra quarto yang ini, terakhir baca buku yang forgiven. wajib dibeli nih :P

    BalasHapus