Jumat, 31 Januari 2014

Hanna: Die Lieberstraume (Impian Cinta) - Josephine Widya Wijaya


 - Cinta yang Membutakan -


Judul buku: Hanna: Die Lieberstraume (Impian Cinta)

Penulis: Josephine Widya Wijaya
Penerbit: Diva Press
Cetakan: ke-1, November 2012
Jumlah halaman: 414
ISBN: 9786027665767


"Seperti yang pernah engkau katakan padaku. Jadilah pianis bila hatimu adalah deretan tuts piano nan hening. Jadilah penyanyi bila hatimu adalah melodi emas para malaikat surgawi." - Ludwig to Hanna.

Novel ini berlatar Eropa Barat abad ke-19, saat musik dan opera sedang sangat diminati. Salah seorang yang sangat mencintai musik adalah Hanna, penyanyi opera sekaligus mahasiswa ilmu pengobatan. Ia memiliki kekasih bernama Ludwig, pianis di opera yang sama. Di opera itu juga mereka mengenal Alfons. Alfons yang sering bermain dengan banyak wanita, jatuh cinta pada Hanna. Alfons sampai mengutus orang membunuh Ludwig.

Keluarga Hanna adalah keluarga bangsawan, tetapi ayah Hanna, Jenderal Thomas, membesarkan anak-anaknya dengan cara yang keras. Ia ingin Hanna menjadi seorang militer. Ia selalu menganggap anak-anaknya bodoh dan manja.

Suatu hari,  Jenderal Thomas menerima surat dari Kerajaan Belgia yang meminta bantuannya mengintai pergerakan penyelundupan narkotika. Saat itu, ia sedang melakukan ekspedisi ke Hindia. Ia mengutus Hanna menjalankan misi itu.

Hanna dan Ludwig menjalankan misi tersebut. Para penjahat mengintai mereka. Seorang saksi terbunuh. Dalam misi itu, mereka dibantu oleh Jenderal Philip dan Maestro Zwart. 

Dalam keadaan berbahaya itu, anak Maestro Zwart jatuh cinta pada Ludwig, Tamara. Tamara adalah gadis buta. Usianya sembilan belas tahun, tetapi sangat kekanak-kanakan. Ia bermimpi menjadi seorang putri dan suatu saat menemukan pangerannya. Tamara ingin Ludwig menjadi pangerannya.

Tamara bertemu Alfons. Alfons bersikap sangat baik padanya. Alfons mengajak Tamara untuk bersamanya. Tamara mengiyakan. Hanna dan Ludwig yang mengamati pertemuan itu dari jauh memunculkan diri. Terjadi aksi kejar-kejaran. Alfons berhasil melarikan diri.

Namun, Hanna tidak tahu Alfons berhasil memberikan Tamara sebotol racun. Tamara menggunakan racun mematikan itu untuk mengancam Ludwig. Ludwig harus memilih antara Tamara atau Hanna. Jika Ludwig tidak mau mencintai Tamara, gadis itu akan bunuh diri dengan racun tersebut.

Penyerangan terjadi saat ulangtahun Tamara. Hanna dan Ludwig terkena panah beracun. Ludwig mendapat luka yang parah sehingga koma berhari-hari. Hanna sadar dalam waktu sehari, tetapi kondisinya masih lemah. Racun itu adalah racun jenis baru yang belum ditemukan penawarnya. Alfons memberikan penawaran bahwa ia bersedia memberikan penawar kepada Hanna. Jika Hanna menolak, Ludwig akan dibunuh. Namun, itu hanya tipu daya Alfons.

* * *
Novel ini saya beli dengan harga diskon di Gramedia. Kebetulan, saya sedang ingin membaca romance yang sedikit suram. Sinopsisnya sudah cukup bagus menurut saya. 

Ide cerita ini sudah bagus. Pemilihan latar waktu juga tepat. Hanya saja, saya kurang menyukai gaya penulis. Di awal, saya merasa tulisannya masih kasar. Selanjutnya, entah saya memang sudah terbiasa, atau memang tulisannya sudah lebih baik. Saya juga kurang terbiasa dengan penggunaan "engkau" karena lebih sering menemukan "kau" dalam novel terjemahan, latar abad berapa pun. Tapi, lama kelamaan cukup terbiasa. Sayangnya, ketika saya sudah mulai merasa nyaman, saya justru menemukan kata semacam eh, maklum, dan galau. Rasanya kurang sepadan untuk tulisan serius dengan setting abad 19.

Saya cukup dibuat bingung dengan dialog. Biasanya, dialog berdua yang tidak perlu menyebutkan nama itu berpola A-B-A-B, kan? Kutipan pertama tokoh A, kutipan kedua tokoh B, dst. Namun, beberapa dialog menumpukkan satu tokoh sama dalam tanda kutip berbeda, tetapi dalam baris yang saya pikir diucapkan tokoh lain. 

Saya juga harus melewatkan bagian-bagian berupa lirik lagu. Tidak ada terjemahan atau penjelasan. Beberapa kata juga masih asing bagi saya, seperti kantata, orotaria, aria. Setidaknya bisa disisipkan footnote.

Dari segi fisik, saya menyayangkan beberapa halaman sedikit miring walaupun tidak terlalu menganggu. Tapi, dari segi cover, saya rasa rambut Hanna kurang gelap.

Novel ini sudah cukup menjawab keinginan saya membaca romance suram. Namun, saya kurang puas dengan misi pengintaian yang kurang jelas. Hanya bertarung-bertarung singkat, lalu tertangkap. Tidak jelas juga siapa yang mengutus para penjahat, atau mungkin saya yang terlewat? Tapi, novel ini kan memang mengutamakan kisah cinta Hanna dan Ludwig, jadi tidak salah juga. 

Ending . . . (waspada spoiler) pendakiannya cukup bagus, membuat saya menerka segala kemungkinan, termasuk ending seperti Romeo Juliet. Sayangnya, eksekusi kurang greget. Saya ingat satu novel yang saya pikir bukan fantasi, ternyata ending-nya sangat fantasi. Lebih baik seperti itu. Kalau mau dibuat fantasi, tembakannya masih kurang. Kalau bukan fantasi, tidak bisa dibilang ilmiah.

Satu-satunya hal dewasa adalah adegan pembunuhan dan pertarungan yang merenggut beberapa orang. Bagi saya yang sudah sering melihat adegan pembunuhan di anime sejak kecil, itu tidak termasuk sadis. Jadi, saya tidak tahu harus membatasi rekomendasi untuk siapa.

Sekian review ini.
Terima kasih sudah menyempatkan diri membacanya.

Rating:



6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Silakan kalau masih banyak pertanyaan dan unek-unek lainnya
    Saya masih bisa menerima

    Bahasanya jangan terlalu menusuk ya
    Nanti saya ga kuat baca hehehe

    BalasHapus
  3. Lalu untuk 'galau', kata itu kan sudah ada sejak dahulu. Hanya mungkin belakangan ini semakin sering dipakai.
    Apakah saya salah memilih kata itu?

    Untuk lagu-lagu, saya tidak membuat untuk diutamakan. Hanya melambangkan bahwa lagu itulah yang dinyanyikan. Itu semua lagu benar ada. Silakan dicari.

    Soal istilah-istilah yang kurang Anda mengerti, makanya, Anda sendiri yang harus mencari. Ini kan memang visi saya, membuat banyak orang menjadi ingin tahu dan kembali mempelajari musik klasik :)

    BalasHapus
  4. Jawaban dari saya selengkapnya:

    http://josephinewidya.wordpress.com/2014/02/01/senarai-kritik-dan-tanggapan-josephine-hanna-die-liebestraume/

    BalasHapus
  5. makasih komentarnya, kak.
    ooh, selama ini saya tahunya itu hanya untuk korban kecelakaan atau orang sakit. ternyata bisa juga untuk orang keracunan.
    saya tahu kata "galau" udah lama di kbbi, kan ada lagu Titi DJ. mungkin otak saya sudah terkontaminasi bahasa gaul, jadi rasanya kata itu ngepop bagi saya yang suka sesuatu bergaya old.
    makasih tanggapannya, kak. sukses terus. :)

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus