Senin, 28 Oktober 2013

Water Wings - Morris Gleitzman


Judul buku: Water Wings
Judul terjemahan: Pelampung Karet
Penulis: Morris Gleitzman
Alih bahasa: Dharmawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: ke-1, Juni 2003
Jumlah halaman: 168

Jujur saja, saya kurang yakin apakah tulisan yang satu ini dapat dikatakan review atau bukan. Saya sudah membaca buku ini bertahun-tahun lalu dan saya sudah melupakan inti ceritanya, tetapi saya merasa perlu membagi kesan-kesan selama bertahun-tahun itu.


Karena saya sudah lupa dengan jalan ceritanya, berikut saya sajikan sinopsi dari bookoopedia.com.


Dalam kotak-kotak berisi barang-barang usang di loteng, Pearl menemukan pelampung karet berwarna merah muda."Nek,"katanya. "ini punya Nenek?"Nenek menatap pelampung-pelampung itu lama sekali. Matanya berkaca-kaca. Pearl menyimpan rahasianya dalam lemari es di antara kacang polong dan jagung manis. Tapi rahasia Nenek terpendam lebih dalam lagi. Bagaimana rahasia-rahasia ini terungkap, bagaimana Nenek ditobatkan jadi Ratu Karnaval, dan persekongkolan Pearl dengan Mitch yang melibatkan obat bius kuda dan jamu Nenek, semua berakhir dengan sangat mengharukan dalam cerita lucu ini.Sebuah kisah yang menghebohkan dan mengharukan, karya penulis Australia yang kocak.
 Novel ini saya pinjam dari perpustakaan kota sewaktu SMP. Saya tidak mengharapkan bacaan yang terlalu bagus. Saya hanya ingin membaca. Titik. Namun, ternyata novel ini seolah memiliki sihir tersendiri.
Novel ini bukan sekadar bacaan anak yang mengandung banyak amanat tetapi memiliki cerita klise. Morris Gleitzman mampu menyajikan bacaan anak yang menghibur, bermakna, sekaligus menyelam jauh ke dalam dunia anak.
Walaupun saya kurang yakin apakah ada anak yang mau membaca buku dengan tebal seratus halaman lebih, buku ini dapat dijadikan edukasi bagi para orang tua untuk melihat dunia anak yang unik dan mengenang kembali masa-masa muda.
Sewaktu saya kecil (sebelum SMP), saya pernah membaca beberapa buku dan menurut saya hampir semuanya klise: anak yang sangat baik hati, anak nakal yang mendapat ganjaran, dan sebagainya.
Hal-hal klise itu tidak ada dalam buku ini. Tokoh utama dalam buku ini bukan anak baik hati, bukan juga anak nakal. Dia anak biasa seperti anak-anak pada umumnya, yang bisa menjadi baik tetapi terkadang nakal.
Penulis seolah dapat mengetahui pola pikiran anak-anak. Terkadang, anak-anak memiliki cara berpikir yang dapat dianggap aneh oleh orang dewasa. Anak-anak juga dapat melakukan hal-hal ekstrem yang tidak akan dilakukan orang dewasa. Sebagai contoh, ketika hamster (atau mungkin marmut) Pearl mati, Pearl bukan mengubur atau membuangnya, melainkan menyimpannya di dalam kulkas, dengan dibungkus plastik dan roti agar tidak berjamur.
Bagi orang dewasa, mungkin hal itu tampak menjijikkan (mungkin bagi anak lain juga), tetapi hal itu merupakan perwujudan kasih sayang berlebih kepada hewan peliharaan. Walaupun kalau saya sendiri yang mendapati hal itu, saya akan langsung membating pintu kulkas dan berlari ketakutan, toh suatu saat anak itu akan sadar dengan sendirinya. Orang dewasa juga berperan untuk berbicara secara baik-baik jika itu terjadi, bukan memarahi.

Ada sensasi aneh ketika membaca buku ini dan sensasi itu masih saya rasakan setiap saya mengingat buku ini, yaitu melompat-lompat. Saya sendiri tidak tahu alasannya (atau mungkin tidak ingat).

Walaupun saya tidak dapat mengingat cerita dari buku ini, saya dapat mengingat perasaan ketika membaca buku ini. Lucu, mengharukan, menegangkan, menyenangkan, dan perasaan kasih sayang dari para tokoh. Juga perasaan berat hati ketika harus mengembalikan ke perpustakaan. Buku ini juga menjadi satu-satunya buku yang saya katakan bagus kepada adik saya (kami tidak pernah membahas buku).

Saya memberi nilai 4 dari 5 meskipun saya tidak mengingat jalan ceritanya karena saya yakin dengan mengingat perasaan ketika membaca buku itu saja sudah menunjukkan buku itu buku yang bagus.

Walaupun saya tidak punya buku ini, saya ingin punya dan baca ulang kok, makanya rating 4. hehe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar