Minggu, 27 Oktober 2013

Forgiven - Morra Quatro


- Forgiveness for Going On -

Judul buku: Forgiven
Penulis: Morra Quatro
Editor: Kinanti Atmarandy 
Desain cover: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: ke-2, 2010
Jumlah halaman: 266
ISBN: 9797804321

"Everyone makes mistakes, but only a few could forgive." - Elisa to Karla

Karla dan Will adalah sahabat sejak SMA. Keduanya selalu bersama, bersama empat anggota "geng" lainnya: Robby, Laut, Alfan, dan Wahyu. Karla sang ketua kelas dan Will sang maniak Fisika sekaligus anak olimpiade. Prestasi itu tidak membuat mereka bersih sebagai siswa tanpa kenakalan remaja.

Suatu hari, seorang guru mendapati anak-anak laki-laki sedang merokok. Kejadian itu menyeret Robby sebagai tersangka utama karena dialah yang membelikan mereka rokok. Interogasi Robby berlangsung berjam-jam. Ketika kelimanya menjenguk Robby, mereka mendapati Robby babak belur, maka tercetuslah misi pembalasan dendam.

Sayangnya, misi itu tidak berjalan sempurna. Karla pun mendapat hukuman akibat tertangkap para guru. Karla satu-satunya yang mendapat hukuman skorsing karena dia seorang ketua kelas yang seharusnya bertanggung jawab atas murid-murid lainnya.

Elisa, Mama Karla berdiskusi dengan Papa. Mereka  pun memutuskan Karla perlu melanjutkan pendidikannya di Amerika agar mendapat lingkungan yang baik, bukan lingkungan yang dipenuhi anak-anak nakal.

Setelah kelulusan SMA, sebelum Karla pindah sementara ke Singapura, Will menghilang. Karla mencoba mencari kabar Will, tetapi hasilnya nihil. Ketika Karla mendatangi rumah Will, tidak ada seorang pun yang keluar. Akhirnya, Karla pun pergi tanpa bertemu Will.

Suatu hari, tanpa diduga, Will menyambangi apartemen Karla di Singapura. Will mendapat alamat itu dari Mama Karla. Pada kesempatan itu, Will mengatakan bahwa dia pun akan ke Amerika. Namun, Will pergi ke Amerika lebih dulu.

Ketika Karla sudah di Amerika, Will mengundangnya ke tempat pertemuan para mahasiswa Indonesia yang tinggal di Amerika. Will memiliki koneksi para mahasiswa karena Nicolas, kakaknya, adalah mahasiswa MIT (Massachusettes Institute of Technology).

Alih-alih melepas rindu, pertemuan itu justru menyakitkan. Will meminta Karla untuk tidak menemuinya lagi.

"You got someone else?" - Karla

Hubungan itu pun berakhir.

Karla menemukan pengganti Will. Mereka dekat dalam waktu cukup lama sebelum akhirnya tunangan kekasihnya itu datang. Namun, Karla tidak mengetahui bahwa dirinya mengandung anak dari kekasihnya.

Dan Will adalah orang yang pertama kali menyadari kehamilan Karla. Karla yang tidak tahan untuk tidak bertemu Will, akhirnya bertemu Will ketika Will, Nicolas, dan yang lainnya datang ke kampusnya. Karla mulanya menaruh harapan, tapi temuan Will bahwa Karla hamil memupuskan hal itu. Will pun meninggalkan Karla.

Dalam keadaan yang tidak tentu arah itu, Chiara mendekati Will. Namun, kedekatan itu tidak berdampak baik. Will terjerumus ke dalam masalah yang lebih besar.  Ketika akhirnya mereka menikah pun, masalah seolah tidak ingin pergi dari kehidupan Will.

Hingga mencapai titik terendah hidupnya, Will melakukan hal nekat akibat pengaruh emosinya.

 "An eye for an eye will make us all blind." - Elisa to Karla

* * *

Well, sinopsisnya cukup sampai di situ. Saya tidak mau menceritakan lebih jauh karena itu adalah bagian yang sangat menguras emosi dan air mata.

Novel ini sebenarnya novel lama dan merupakan novel pertama dari penulis, terbit kira-kira ketika saya kelas 10 atau 11. Alasan saya membeli novel ini adalah karena harganya murah. ^^v Namun, dibalik harganya yang murah, novel ini tidak bermurah hati mengecewakan pembaca. Saya sempat menyesal tidak membaca novel ini sejak lama. Alasan lainnya adalah karena saya menyukai design covernya, yang seolah menggambarkan bahwa novel ini suram sekaligus memiliki cahaya tersendiri yang misterius.

Novel ini dibuka dengan berlatar tempat yang mungkin tidak biasa, yaitu penjara. Pertemuan Will dan Karla setelah sekian lama justru terjadi di tempat yang tidak menyenangkan. Selanjutnya, bagian pertama novel ini mengisahkan masa lalu, masa remaja Karla dan Will, berlatar belakang zaman Order Baru. Setiap inti dari bagian pertama memiliki kaitan dengan teka-teki pada bagian kedua. Insiden "period" pada bab pertama bagi saya memiliki keterkaitan dengan bab-bab selanjutnya. Bahkan, deskripsi fisik tokoh pun memiliki nilai pada antiklimaks.

Efek domino pada novel ini benar-benar terasa. Suatu masalah tidak muncul tiba-tiba, tetapi berawal dari keterpurukan akibat masalah sebelumnya, seperti kebutaan partial Will ketika SMA akhirnya berujung pada kisah cintanya dengan Karla dan keegoisannya terhadap Chiara, orang yang kemudian menjadi istrinya.

Novel ini mengisahkan suatu kisah cinta yang dikemas dalam balutan Fisika dan Hukum, yang menambah kekuatan kisah tersebut.

Novel ini adalah novel pertama yang saya baca yang memiliki judul dengan penggambaran keseluruhan isi novel, ditambah kata "seandainya". Awalnya, ketika baru membaca novel ini hingga bagian pertama, saya bertanya-tanya alasan judul novel ini menggunakan kata dalam bentuk lampau (atau mungkin pasif). Setelah membacanya sampai selesai, saya menemukan jawabanya.

Ketika maaf itu diterima, semua sudah terlambat. Menurut saya, semua tokoh dalam novel ini salah (kecuali anak Karla), tetapi semua tokoh dalam novel ini juga benar (nahloh?). 

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari novel ini. Memaafkan adalah  suatu penerimaan.

Seandainya Will mau menerima keadaannya.

Seandainya Karla menerima keputusan Will dengan baik.

Seandainya Nicolas memaafkan Will, atau setidaknya tidak mengeluarkan adiknya dari proyek yang sudah dikerjakannya dalam waktu lama.

Seandainya Chiara, memaafkan "ketidaksengajaan" Will. (Tapi jujur saja, saya merasa tokoh yang satu ini kesalahannya sangat fatal sejak awal).

Seandainya Will memaafkan bosnya, atau minimal menerima kenyataan tersebut. Atau seandainya bosnya itu cukup melihat karyawan dari kemampuannya.

Tapi, kalau seandainya hal-hal di atas terjadi, mungkin novel ini tidak akan seru.

Walaupun bukan novel religi, novel ini cukup dapat mengingatkan saya untuk berdoa dan tidak terpuruk dari satu dosa ke dosa lain. Keterpurukan juga bisa datang akibat tidak memaafkan, baik bagi pihak yang seharusnya meminta/mendapat maaf, atau pihak yang seharusnya memberi maaf.

Mengingat Will yang sangat ingin meraih nobel Fisika, novel ini cukup menaikkan semangat untuk belajar, dengan tetap menyerahkan keputusan akhir kepada Tuhan.

Dan untuk para cowok, mungkin novel ini juga bisa mengingatkan kalian untuk jujur terhadap perasaan. Hihi. :P

Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah cinta Karla dan Will yang sangat besar walaupun mereka saling menutupi. Kalau ini kisah nyata, saya akan mengira Tuhan benar-benar ingin menyatukan mereka, tetapi ketidaksabaran ketika cinta mereka diuji dan kebodohan sebagai manusialah yang membuat mereka terpisah.

Satu-satunya kekurangan yang dapat saya temukan dari novel ini adalah terdapat beberapa kesalahan pengetikan. Namun, karena sudah terlarut dalam kisah ini, kesalahan-kesalahan itu terabaikan dengan sendirinya. Tapi, karena kekurangan tetap saja kekurangan, maka saya memberi peringkat 4 untuk novel ini.

Saya rasa, setiap orang yang menginginkan pencerahan terhadap drama kehidupannya perlu membaca novel ini. Tapi, mungkin anak SMP belum boleh baca novel yang tidak bisa dikatakan ringan ini. ^^v

"Do you love my mom?" - Troy
"I always love her." - Will

Rating:






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar